Rabu 08 May 2024 16:38 WIB

Cara Mencintai Allah dan Dua Jenis Cinta kepada-Nya 

Seseorang mencintai Allah SWT maka akan mencintai orang yang dicintai Allah SWT.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
 Ilustrasi kaligrafi Allah
Foto: Republika.co.id
Ilustrasi kaligrafi Allah

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW kekasih Allah SWT. Seorang ahli hadits dari Tanah Suci Makkah menjelaskan bahwa jika seseorang mencintai Allah SWT maka akan mencintai orang yang dicintai Allah SWT. Kemudian akan mencintai perbuatan yang dilakukan oleh kekasih Allah SWT dan akan cinta melakukan atau mengikuti yang dilakukan kekasih Allah SWT. 

Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni di dalam kitab Nashaihul Ibad menyampaikan riwayat tentang cinta atau mahabbah kepada Allah SWT. Syekh Nawawi al-Banteni menukil riwayat yang diriwayatkan Sufyan bin 'Uyainah dan Ibnu Hajar al-Asqalani.

Baca Juga

Sufyan bin 'Uyainah seorang ahli hadis di Tanah Haram atau Tanah Suci Makkah mengatakan, "Siapapun yang cinta kepada Allah, maka ia akan cinta kepada orang yang dicintai Allah. Siapapun yang cinta kepada orang yang dicintai Allah, maka ia akan cinta kepada perbuatan yang dilakukan karena cinta kepada Allah. Siapapun yang cinta kepada perbuatan yang dilakukan karena cinta kepada Allah, maka ia akan cinta melakukan perbuatan itu tanpa diketahui manusia."

Ibnu Hajar al-Asqalani seorang ahli hadits dari mazhab Syafi'i yang terkemuka menjelaskan bahwa mahabbah atau cinta kepada Allah itu dapat dibedakan menjadi dua macam.

Pertama, mahabbah fardhu yaitu mahabbah (cinta) yang mendorong untuk melakukan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kedua, mahabbah sunnah yaitu mahabbah (cinta) yang mendorong untuk membiasakan ibadah-ibadah sunnah dan menjauhi perkara-perkara yang syubhat.

Abu Bakar As-Siddiq pernah berkata "Barangsiapa yang telah merasakan mahabbah Allah atau cinta kepada Allah secara murni, maka apa yang dirasakan itu akan dapat melupakannya dari keinginan dunia dan membuatnya merasa asing dari perkumpulan manusia."

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Kebenaran atau bukti cinta itu tergantung pada tiga perkara. Yaitu lebih memilih ucapan kekasih daripada ucapan orang lain, lebih memilih duduk bersanding kekasih daripada bersama orang lain, dan lebih memilih kerelaan kekasih daripada kerelaan orang lain."

Yahya bin Mu'adz ar-Razi pernah berkata, "Sekecil apapun cintaku kepada Allah itu lebih aku sukai daripada beribadah selama 70 tahun." Dilansir dari kitab Nashaihul Ibad yang diterjemahkan Abu Mujaddidul Islam Mafa dan diterbitkan Gitamedia Press, 2008.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement