Sabtu 30 Mar 2024 21:00 WIB

Tips Menghindari Sikap Hasad

Hasad akan membakar amal kebaikan yang sudah ada.

Rep: mgrol151/ Red: Erdy Nasrul
Orang yang melakukan hasad sama saja dengan membakar pahala yang sudah dikumpulkan selama ini.
Foto: ANTARA/Raisan Al Farisi
Orang yang melakukan hasad sama saja dengan membakar pahala yang sudah dikumpulkan selama ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sikap hasad atau iri hati, merupakan salah satu penyakit hati yang merusak dan merugikan tidak hanya individu yang mengalaminya, tetapi juga lingkungan sekitarnya. Bahaya sikap hasad tidak bisa diabaikan, karena dampaknya dapat meluas dan mengganggu kesejahteraan sosial.

Sikap hasad juga dapat merusak hubungan sosial antarindividu. Perasaan iri hati yang terpendam dapat memicu perilaku negatif seperti fitnah, gosip, dan penolakan terhadap individu yang menjadi objek iri hati. 

Baca Juga

Akibatnya, tercipta lingkungan sosial yang tidak sehat dan penuh dengan kecurigaan, yang pada akhirnya memecah belah silaturahmi antara sesama.

Namun, sikap hasad bisa diatasi dengan beberapa cara, yaitu sebagai berikut:

 

Pertama, selalu bersyukur dengan nikmat sekecil apapun 

Bersyukur bukan sekadar ungkapan kata-kata, tetapi sebuah sikap hidup yang mempengaruhi cara kita melihat dan menjalani kehidupan. Dengan bersyukur, seseorang bisa membuka pintu menuju kebahagiaan, kedamaian, hubungan yang lebih kuat, produktivitas yang lebih tinggi, dan penghargaan terhadap kehidupan secara keseluruhan.

Selain itu, dengan bersyukur seseorang bisa selalu mengingat Allah SWT karena atas segala sesuatu yang ia dapatkan semasa hidup, besar ataupun kecil tetap menjadi kenikmatan yang Allah berikan. 

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak. (HR. Ahmad).

Kedua, mendoakan kebaikan pada orang yang mendapatkan nikmat agar kita mendapatkan pahala dari hasil mendoakannya

Dari Ummu Darda’ radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Doa seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan doanya kepada saudaranya). Ketika dia berdoa kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata: Aamiin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya. (HR. Muslim, no. 2733).

Mendoakan kebaikan bagi orang yang mendapatkan nikmat adalah tindakan yang tidak hanya menggambarkan kepedulian kita terhadap orang lain, tetapi juga merupakan investasi spiritual yang bernilai. Saat kita melihat seseorang meraih nikmat atau keberuntungan dalam hidup mereka, mendoakan kebaikan bagi mereka adalah salah satu cara yang paling mulia untuk memberikan dukungan dan memberikan manfaat bagi diri sendiri.

Ketiga, selalu memandang orang yang di bawahnya dalam masalah dunia

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang lain diberi kelebihan harta dan fisik (atau kenikmatan dunia lainnya), maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya. (HR. Bukhari, no. 6490; Muslim, no. 2963).

Dalam hadits lain disebutkan:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu. (HR. Muslim, no. 2963).

Seseorang harus menyadari bahwa setiap orang adalah sama, sehingga ia tidak mudah iri dengan keberhasilan orang lain. Karena sikap hasad juga dapat menghalangi pertumbuhan dan kemajuan pribadi. 

 

 

 

Lihat halaman berikutnya >>>

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement