Jumat 10 Nov 2023 14:13 WIB

Hudaibiyah, Perjanjian Penentu Keberlangsungan Umat Islam, Ini Penjelasannya

Hudaibiyah merupakan perjanjian yang dibuat di masa Nabi Muhammad.

Rep: Rossi Handayani/ Red: Erdy Nasrul
Masjid Hudaibiyah
Foto:

Allah Ta'ala menyatakan hal tersebut :  

لَـقَدۡ رَضِىَ اللّٰهُ عَنِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اِذۡ يُبَايِعُوۡنَكَ تَحۡتَ الشَّجَرَةِ

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon” (QS. al-Fath ayat 18) 

Ketika kaum Quraisy mengetahui adanya ba'iat tersebut, mereka segera mengutus Suhail bin Amr untuk mengadakan perjanjian dengan Rasulullah ﷺ.  

Setibanya sang utusan di Hudaibiah, disepakatilah perjanjian yang di dalamnya terkandung empat hal :  

1. Tahun ini (6 H), Rasulullah ﷺ harus kembali (tidak boleh melaksanakan umrah). Tahun depan beliau dan kaum muslimin boleh memasuki Mekkah dan tinggal di sana selama tiga hari. Mereka hanya boleh membawa persenjataan musafir sedangkan pedang-pedang mereka harus dimasukkan di dalam sarung. Pada saat itu kaum Quraisy tidak boleh menghalanginya.  

2. Menghentikan peperangan dari kedua belah pihak selama 10 tahun dan mewujudkan keamanan di tengah masyarakat.  

3. Siapa yang menjalin persekutuan dengan Muhammad dan kaum Quraisy maka dia termasuk bagian dari kedua pihak tersebut. Maka penyerangan yang diarahkan kepada suku-suku tersebut, dianggap sebagai penyerangan kepada sekutunya.  

 

4. Siapa yang kabur dari kaum Quraisy (Mekkah) dan mendatangi Muhammad (ke Madinah) maka harus dikembalikan (ekstradisi), sedangkan yang kabur dari Muhammad (Madinah) kepada kaum Quraisy (ke Mekkah), tidak dikembalikan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement