Jumat 29 Sep 2023 05:00 WIB

Batalyon 'Orang Gila' dalam Pasukan Ottoman, Hadapi Musuh dengan Tamparan

Tamparan Prajurit Ottoman bisa menyebabkan kerusakan otak dan kematian.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Pasikan Janissari yang merupakan pasukan khusus Turki Utsmani (Ottoman)
Foto: wikipedia
Pasikan Janissari yang merupakan pasukan khusus Turki Utsmani (Ottoman)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pada perang zaman dulu, pertempuran terjadi dengan menggunakan pedang atau senjata kuno lainnya. Namun bagaimana jika seorang prajurit kehilangan senjata dalam pertempuran? Bagaimana dia bertahan?

Ternyata tentara Ottoman menemukan senjata yang efektif dalam kondisi itu, yakni dengan menampar. Cara unik ini kemudian melekat dengan pasukan Ottoman hingga disebutlah 'Tamparan Ottoman'.

Baca Juga

Prajurit yang kehilangan pedang dalam sebuah pertempuran, membela diri dengan cara menampar musuh. Dan menariknya, tamparan tersebut dapat menyebabkan kematian musuh kala itu. Tamparan ini bukanlah tamparan biasa, sebab ada teknik khususnya.

Ini dimulai pada akhir abad ke-13 Masehi. Ketika Kesultanan Turki Utsmani didirikan oleh Osman Ghazi (Osman bin Ertugrul) di akhir abad ke-13 Masehi, ada berbagai ekspedisi militer yang dilakukan. Salah satu contohnya ialah kemenangan Ottoman pada tahun 1301 dalam pertempuran di Bapheus, sebuah distrik sekitar Ismit atau Nikomedia, sekitar 100 kilometer arah tenggara Konstantinopel.

Keberhasilan Osman Ghazi merupakan petanda awal datangnya masalah besar bagi kedaulatan Bizantium di kemudian hari. Saat itu, pasukan Muslim berhasil merebut benteng-benteng Romawi Timur dalam sebuan pada malam hari. Selain Kota Bilecik, Ottoman juga dapat menduduki Indegol, Yenisehir, Anagourdia, dan Platanea.

Berdasarkan keterangannya, dapat dipastikan bahwa hingga 1308, Ottoman di bawah kepemimpinan Osman Ghazi menguasai wilayah dekat pesisir timur Laut Marmara, berbatasan hingga Bursa, Iznik (Nicaea), dan Danau Sapanca. Penentu keberhasilan ini adalah strategi militer yang jitu. Salah satunya adalah dengan memberdayakan kalangan petani yang masih bujang.

Pada awal kepemimpinan Osman Ghazi, pasukan negara modern Turki Utsmani sebagian besar terdiri dari sukarelawan. Sebelum Orhan Ghazi (Orhan bin Osman/putra Osman Ghazi) membentuk pasukan Janissari, sudah ada ratusan pejuang yang berbondong-bondong datang ke wilayah Kesultanan Utsmani.

Puluhan batalyon dan divisi militer dibentuk. Salah satu divisi militer yang legendaris adalah "Divisi Azab", yang mendahului berdirinya tentara Janissari. Divisi Azab berperan sebagai Batalyon Al-Aqnji. Batalyon ini dijuluki Katibah Al Majanin, yang artinya Batalyon Orang-Orang Gila.

Divisi Azab Ottoman mengacu pada batalyon yang dibentuk dari para petani yang belum menikah. Pada awal berdirinya, kesukarelaan untuk mengabdi di Divisi itu hanya terbatas pada Ottoman di Anatolia. Setelah itu, barulah dibuka kesempatan pada abad ke-16 Masehi bagi seluruh bujangan di provinsi Ottoman untuk menjadi sukarelawan di kelompok bujangan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement