Selasa 26 Sep 2023 18:32 WIB

5 Cara Menjaga Mulut dari Dosa dan Maksiat Lisan

Setiap orang harus melatih dan membiasakan dirinya menjaga lisan.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi bahaya lisan.
Foto:

2)Muslim yang baik akan menjaga lisannya

Berhati-hati dalam bertutur kata memberikan rasa aman kepada sesamanya,  

و حَدَّثَنَا أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ الْمِصْرِيُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُا إِنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِه

Telah menceritakan kepada kami Abu ath-Thahir Ahmad bin Amru bin Abdullah bin Amru bin Sarh al-Mishri, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahab dari Amru bin al-Harits dari Yazid bin Abu Habib dari Abu al-Khair bahwa dia mendengar Abdullah bin Amru bin al-Ash keduanya berkata, "Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Muslim yang bagaimana yang paling baik?" Beliau menjawab, "Yaitu seorang muslim yang orang lain merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya. (HR. Muslim nomor hadits 40 dalam Syarah Sahih Muslim).  

3)Bahaya lisan

Ini terjadi ketika lisan digunakan untuk mencela orang lain. Hal ini sulit untuk mendapatkan pengampunan kecuali dengan meminta maaf pada orang yang dicela atau digunjingnya.  

يَا عَلِيُّ، لَا تُعَيِّرْ أَحَدًا بِمَا فِيْهِ فَمَا مِنْ لَحْمٍ إِلَّا وَفِيْهِ عَظْمٌ وَلَا كَفَّارَةَ لِلْغِيْبَةِ حَتَّى يَسْتَحِلَّهُ أَوْ يَسْتَغْفِرَ لَهُ

Wahai Ali, jangan lah engkau mencela seseorang karena sesuatu di dalam dirinya (semisal kecacatan, atau pun kekurangan lainnya) karena tidak ada daging melainkan ada tulangnya. Dan tidak ada cara menebus dosa menggunjing sampai ia meminta maaf kepada orang yang digunjingkannya atau memintakan ampunan (membacakan istigfar) ia bagi orang yang digunjingnya. (Lihat kitab Wasiyatul Mustofa) 

Maksudnya seorang hamba tidak boleh mencela orang lain karena keterbatasan atau kekurangan yang dimilikinya apa pun itu. Sebab setiap manusia pasti terdapat kekurangannya masing-masing. Seperti halnya daging, meski pun daging empuk namun dibalik itu terdapat tulang yang keras dan beragam bentuknya. Sebab itu ketika seseorang telah mencela orang lain karena keterbatasannya, maka hendaknya segera meminta maaf dan mengakui kesalahannya.

 

Lihat halaman berikutnya >>> 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement