Kamis 17 Aug 2023 11:20 WIB

Perang Paling Sengit dan Berdarah dalam Kehidupan Nabi Muhammad

Perang ini disebabkan karena dibunuhnya utusan Rasulullah oleh pejabat negeri Syam.

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah
Ilustrasi Sahabat Nabi
Foto:

Maka, berangkatlah pasukan kaum muslimin ke negeri musuh. Setelah tiba di sana mereka bermarkas di sebuah tempat bernama Mu'tah dan mempersiapkan pertempuran. Sayap kanan dipimpin Qutbah bin Qatadah al-Udzri dan sayap kiri dipimpin oleh Ubadah bin Malik al Anshari.

Di sanalah pertempuran antara kedua pasukan berkecamuk. Sebanyak 3.000 pasukan melawan 200 ribu pasukan. Peperangan yang sulit dipahami dan dicerna kecuali dengan bahasa keimanan.

Peperanganpun berkecamuk. Panglima perang Zaid bin Haritsah, seraya memegang bendera, berperang dengan gagah berani yang sulit dicari tandingannya, namun akhirnya dia tersungkur terkena panah musuh. Seketika itu juga, bendera diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib, diapun berperang dengan perkasa.

Di tengah peperangan, tangan kanannya terputus disabet pedang musuh, maka bendera tersebut digenggam oleh tangan kirinya, kemudian tangan kirinya pun putus disabet pedang musuh, maka bendera tersebut didekap oleh kedua lengannya, begitulah seterusnya dipegangnya bendera tersebut hingga akhirnya dia pun terbunuh.

Dikisahkan bahwa seorang Romawi menebas tubuhnya hingga terbelah dua. Namun, Allah segera membalasnya dengan menggantikan kedua tangannya yang terputus dengan kedua sayap dari surga yang dengannya dia terbang sesukanya. Karena itu, beliau dijuluki sebagai Ja'far at-Thayyar (Penerbang).

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ketika melihat tubuh Ja'far yang terbunuh bahwa dia menghitung lebih dari lima puluh tusukan di tubuh Ja'far, tidak ada yang tersisa di bagian belakang tubuhnya.

Setelah itu bendera diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah. Beliaupun dengan gagah berani menerobos ke tengah pasukan musuh. Awalnya dia agak ragu dan menyingkir sesaat. Lalu dia bersyair:

Aku bersumpah wahai jiwaku...

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement