Kamis 29 Jun 2023 04:15 WIB

Apakah Berkurban Mengampuni Dosa Selama Setahun?

Ketaatan Nabi Ibrahim memberi pelajaran kepada setiap Muslim.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
Dokter hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mendata hewan kurban yang dijual di salah satu tempat penjualan hewan kurban di Jalan Pasir Luhur, Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (16/6/2023). Pemeriksaan tersebut untuk memastikan seluruh hewan kurban yang dijual oleh pedagang layak dikonsumsi masyarakat.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Dokter hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mendata hewan kurban yang dijual di salah satu tempat penjualan hewan kurban di Jalan Pasir Luhur, Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (16/6/2023). Pemeriksaan tersebut untuk memastikan seluruh hewan kurban yang dijual oleh pedagang layak dikonsumsi masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mungkin sebagian Muslim sempat ada yang bertanya-tanya tentang apakah seorang Muslim yang berkurban dapat terampuni dosa-dosanya selama setahun dengan darah hewan kurban tersebut?

Dina Mohamed Basiony, penulis Muslim dan spiritualitas asal Kairo Mesir, menjelaskan, penyembelihan hewan kurban bukan untuk pengampunan dosa. Tujuan dilaksanakannya ibadah kurban, merujuk firman Allah SWT berikut ini:

Baca Juga

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al Hajj ayat 37)

Dilansir About Islam, mengurbankan hewan berarti memperingati peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim SAW. Apa yang terjadi padanya menggambarkan makna tauhid yang benar dan murni, keyakinan penuh, kepercayaan dan ketergantungan kepada Sang Pencipta Allah SWT, dan bagaimana Dia memberi penghargaan kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas.

 

Nabi Ibrahim meninggalkan ayahnya sendiri dan orang-orangnya ketika dia menemukan bahwa mereka mempersekutukan orang lain dengan Allah SWT dan bukan monoteis.

Dia memilih menyembah Allah saja. Dia menolak tuhan palsu apapun bahkan jika ini berarti meninggalkan bangsanya sendiri. Mereka sampai ingin membakarnya karena menghina tuhan-tuhan palsu mereka.

Sehingga dia memutuskan meninggalkan mereka dan tetap berada di jalan lurus monoteisme murni. Ibrahim meminta Sang Pencipta untuk seorang putra yang saleh. Allah SWT memberinya seorang putra. Tetapi Dia mengujinya dengan karunia ini.

Maka, Allah meminta Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya...

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement