Jumat 09 Jun 2023 05:15 WIB

Siapa yang Mendekap Jasad Nabi Muhammad Ketika Wafat?

Ada perbedaan pendapat soal siapa yang mendekap jasad Nabi Muhammad saat wafat.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil
 Siapa yang Mendekap Jasad Nabi Muhammad Ketika Wafat?. Foto:  Ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad
Foto: Dok Republika
Siapa yang Mendekap Jasad Nabi Muhammad Ketika Wafat?. Foto: Ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Dari berbagai buku sejarah yang juga dipopulerkan dengan pandangan sementara umat Muslim, Rasulullah SAW dikabarkan wafat di pangkuan Sayyidah Aisyah. Benarkah itu?

Dalam menengok fakta yang ada, hadits serta ijtihad ulama dapat menjadi rujukan akurat sebagai salah satu ikhtiar bagi umat Muslim untuk menelusuri sejarah tersebut.

Baca Juga

Pakar Ilmu Tafsir Prof Quraish Shihab dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW menjelaskan, para ulama saling berbeda pendapat mengenai akurasi kabar tersebut. Bahwa ada ulama yang membenarkan bahwa Nabi meninggal di pangkuan Sayyidah Aisyah, namun ada juga sebagian yang tidak sependapat.

Berdasarkan sejumlah riwayat dan sumber-sumber terpercaya oleh kelompok ulama Ahlusunnah, para ulama golongan ini sepakat bahwa Nabi meninggal di pangkuan Sayyidah Aisyah. Namun demikian sebagian ulama lainnya tidak sepakat akan hal ini, termasuk juga kalangan sejarawan Islam.

 

Berdasarkan riwayat Al-Waqidi (berdasarkan ilmu hadis, sementara ulama tidak semua setuju menerima riwayat dari Al-Waqidi. Namun tentu saja ada juga yang menerima riwayat-riwayatnya), sebagaimana dikutip oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat-nya, dia meriwayatkan hadits.

Yakni dia menceritakan bahwa Nabi SAW memanggil Sayyidina Ali dan ketika Sayyidina Ali datang, maka beliau memintanya mendekat. Lalu Nabi SAW bersandar kepadanya, dan Sayyidina Ali berkata, “Sampai-sampai sebagian ludah beliau mengenai diriku. Tidak lama kemudian Rasulullah terjatuh memberati pangkuanku, maka aku berteriak memanggil Al-Abbas." Kemudian, Sayyidina Ali dan Al-Abbas membaringkan Rasulullah SAW.

Menurut Prof Quraish, terdapat sekian banyak riwayat yang sejalan maknanya dengan keterangan di atas. Ada yang bentuknya singkat, ada juga yang rinci. Ini mejadikan sebagian pakar yang berusaha memberi penilaian objektif terpaksa hanya menghidangkan riwayat-riwayat tersebut tanpa menilainya, atau menguatkan salah satu dari kedua informasi yang bertentangan itu.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement