Selasa 06 Jun 2023 00:26 WIB

Ketika Nabi Muhammad SAW Menolak Tawaran Menjadi Raja

Rasulullah pun meminta saran dan nasihat kepada Jibril.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Ani Nursalikah
Rasulullah SAW (ilustrasi)
Foto: republika
Rasulullah SAW (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW kerap ditawari jabatan mentereng oleh kaum kafir Quraisy asalkan tidak melanjutkan dakwah Islam. Bahkan tak hanya itu, Nabi bahkan ditawari jabatan oleh Allah SWT jabatan apapun yang ada di muka bumi.

Allah menawarkan Nabi untuk memilih apakah hendak menjadi raja ataukah hanya seorang hamba. Ketika diberikan penawaran tersebut, Rasulullah pun tidak memutuskannya seorang diri melainkan meminta saran dan nasihat kepada Jibril. Mengapa demikian?

Baca Juga

Dalam buku Harta Nabi karya Abdul Fattah As-Samman dijelaskan, ketika Nabi disuruh memilih, beliau tidak memilih sendiri. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Alquran Surah An-Najm ayat 4 berbunyi, “In huwa illa wahyu, yuha." Yang artinya, “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."

Nabi justru meminta pertimbangan dan saran dari Jibril dan kemudian Jibril menyarankannya agar tetap bersikap rendah hati. Maka, Nabi mengikuti saran Jibril dan menjalankannya. Dalam kitab At-Tawadhu wa Al-Khumul, terdapat salah satu dalil yang membuktikan Nabi tidak memilih sendiri antara menjadi raja atau hamba.

Dalil tersebut adalah sebuah hadis mursal riwayat As-Sya’bi, Rasulullah berkata, “Tuhanku menyuruhku memilih di antara dua perkara: menjadi hamba sekaligus rasul atau menjadi raja sekaligus nabi. Aku tidak tahu yang mana dari keduanya yang akan aku pilih. Aku mengangkat kepala lalu Jibril berkata: rendah hatilah kepada Tuhanmu. Maka kemudian aku menjawab: hamba sekaligus rasul."

Dijelaskan bahwa dalam hadis di atas, nampak jelas bahwa Rasulullah SAW tidak memilih sendiri jabatannya namun terlebih dahulu memohon petunjuk dan nasihat dari Jibril. Dan beliau setuju dengan pendapat Jibril karena kehambaan merupakan status yang lebih tinggi kedudukannya daripada gelar raja di samping Nabi suka menempati kedudukan wasilah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement