Selasa 23 May 2023 17:13 WIB

Toko Gunung Agung Tutup, Bagaimana Pasar Penjualan Buku di Dunia Islam Masa Lalu?

Pasar penjual buku Damaskus dekat dengan masjid Agung Umayyah.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Toko Gunung Agung Tutup, Bagaimana Pasar Penjualan Buku di Dunia Islam Masa Lalu? Foto: Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).
Foto: nfvf.co.za
Toko Gunung Agung Tutup, Bagaimana Pasar Penjualan Buku di Dunia Islam Masa Lalu? Foto: Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Gunung Agung Tiga Belas sebagai induk Toko Buku Gunung Agung telah mengumumkan akan menutup semua toko yang tersisa pada tahun ini. Langkah penutupan itu diambil setelah perusahaan tidak mampu bertahan karena kerugian biaya operasional yang kian besar. Perusahaan pun tak lagi mampu bertahan dari terkaman zaman.

“Dalam pelaksanaan penutupan toko/outlet, yang mana terjadi dalam kurun waktu 2020 sampai dengan 2023, kami melakukannya secara bertahap dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku,” demikian keterangan tertulis Direksi PT GA Tiga Belas, Ahad (21/5/2023).

Baca Juga

Selama 70 tahun, Toko Gunung Agung hadir memberi asupan bacaan di tengah masyarakat. Bukan hal yang singkat, toko yang berawal dari kios sederhana besutan Tjio Wie Tay atau Haji Masagung itu tentu menjadi kenangan bagi sejumlah orang, terutama para pencinta buku, menyusul kabar akan ditutup secara permanen pada tahun ini.

Tidak hanya mendirikan Toko Buku Gunung Agung, Haji Masagung juga mendirikan Toko Buku Wali Songo yang menjual buku-buku Islam. Toko itu didirikan setelah beliau memeluk Islam.

Buku sendiri juga menjadi bagian dari perjalanan perkembangan Islam di dunia, termasuk soal pasar penjualan buku dan perpustakaan. Dalam Islam, membaca sangat dianjurkan. Bahkan, ayat pertama Alquran yang turun adalah perintah membaca.

Bagaimana kondisi pasar buku dan perpustakaan pada masa lalu Islam? Menurut musafir legendaris abad ke-14, Ibnu Battuta (1368), pasar penjual buku Damaskus dekat dengan Masjid Agung Umayyah. Selain buku, para pedagang di sana juga menjual alat perdagangan sastra, mulai dari buluh pulpen, tinta, kulit, kertas keras, lem, hingga kertas halus. Secara tradisional, umat Islam kala itu mewariskan koleksi buku mereka ke masjid.

Sebagian besar perpustakaan kecil adalah bagian dari masjid, yang tujuan utamanya adalah menyalin buku-buku dari bahasa Yunani, Pahlavi, Suriah, dan Sanskerta ke dalam bahasa Arab. Pada masa itu, ceramah, debat, dan diskusi tentang berbagai masalah agama, ilmiah, dan filosofis diperdebatkan di masjid-masjid yang juga berfungsi sebagai pengadilan.

Ada tiga perpustakaan besar di dunia Muslim, yaitu perpustakaan Abbasiyah Baitul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) di Baghdad, perpustakaan Khalifah Fatimiyah di Kairo, dan perpustakaan Khalifah Bani Umayyah Spanyol di Cordoba.

Sejak abad ke-9, lebih banyak lagi perpustakaan yang menyimpan buku-buku ilmu eksakta. Beberapa dari perpustakaan ini dimiliki secara pribadi, sementara yang lain didirikan oleh khalifah, emir (gubernur), sultan, dan wazir.  Misalnya, di Mosul Abbasiyah terdapat sebuah perpustakaan besar bernama Khizanat al-Kutub. Begitu pula seorang pedagang tekstil yang kaya raya, Ali bin Muhammad al-Bazzaz (942), dikatakan telah memiliki sebuah Baitul Ilmi (Rumah Ilmu).

Pada abad ke-10, perpustakaan dan sekolah berkembang pesat, yang didirikan di Basra, Isfahan, Nishapur, Rayy, Damaskus, dan Kairo. Beberapa buku di perpustakaan serupa dicantumkan oleh Ibnu al-Nadim dalam kompilasi bibliografinya, Kitab al-Fihrist, dan dalam biografi ilmuwan dan filsuf Ibnu al-Qifti, Ta'rikh al-Hukama', 'Uyun al-Anba' fi-Tabaqat al-Atibba' karya Ibnu Abi Usaybiyah, dan Tabaqat al-Atibba' wa'l-Hukama' karya Ibnu Juljul.

Karya-karya tersebut memberikan informasi biografi dan bibliografi tentang ilmuwan dan filsuf Muslim dari semua latar belakang etnis hingga abad ke-13. Sejarawan modern dan ahli bibliograf ilmu Islam, termasuk George Sarton (d1956), Carl Brockelmann, dan Fuat Sezgin, telah mengidentifikasi dan menjelaskan manuskrip dan buku cetak tentang sejarah ilmu Islam.

Sejarah perpustakaan di dunia Islam

Perpustakaan pertama kali diperkenalkan oleh orang Yunani. Perpustakaan dianggap sebagai gurunya guru. Kata perpustakaan berasal dari kata Latin, liber, yang berarti buku. Sedangkan, bibliotheca adalah kata Yunani untuk perpustakaan yang digunakan dalam bahasa Jerman dan Romawi.

Dunia Muslim memperoleh seni pembuatan kertas pada abad kedelapan di Persia, yang kemudian umat Islam membawa cara pembuatan kertas ke India dan Eropa. Perpustakaan umum muncul di Baghdad, Kairo, dan Cordoba dengan buku-buku yang dibuat dari kertas. Karena gambar dilarang, kaligrafi menjadi salah satu aspek elegan dari buku-buku Islam.

Perpustakaan umum di dunia Muslim dikenal dengan berbagai nama seperti Bayt al-Hikmah, Khizanat al-Hikmah, atau Dar al-Hikmah, atau Dar al-'ilm, Dar al-Kutub, Khizanat al-Kutub dan Bayt al-Kutub, Kitab-khana (Iran), Kutuphane (Turki). Jenisnya ada perpustakaan madrasah, perpustakaan umum dan swasta, perpustakaan istana, perpustakaan kekaisaran, dan perpustakaan yang terhubung dengan rumah sakit.

Seperti dilansir dari Muslimheritage, Selasa (23/5/2023), perpustakaan Arab pertama didirikan oleh Khalifah Umayyah Muawiyah bin Abi Sufiyan (602-680) di Damaskus. Sebagian besar industri buku pada saat itu berputar di sekitar masjid.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement