Jumat 19 May 2023 05:13 WIB

Masih Korupsi? Ingat Pidato Nabi Muhammad Ini

Orang yang korupsi tak mendapat pertolongan Nabi Muhammad di akhirat.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Masih Korupsi? Ingat Sabda Nabi Muhammad Ini. Foto:   Ilustrasi korupsi
Foto: Freepik
Masih Korupsi? Ingat Sabda Nabi Muhammad Ini. Foto: Ilustrasi korupsi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Korupsi masih menjadi masalah serius yang harus diselesaikan di Indonesia. Para pejabat masih banyak yang melakukan tindak kejahatan ini.

Dalam Islam, perbuatan korupsi ini sangat dilarang. Bahkan, korupsi dapat digolongkan ke dalam jenis-jenis dosa besar, meski tidak ada dalil yang secara langsung menyebutkannya.

Baca Juga

Ketua Asosiasi Mahad Aly Indonesia (AMALI), KH Nur Hannan menjelaskan, dalam Islam korupsi itu diistilahkan dengan ghulul. Istilah Ghulul adalah mengambil sesuatu secara sembunyi-sembunyi dan menggabungkannya ke dalam hartanya, dapat juga bermakna khiyanah (khianat atau curang).

“Nasihat-nasihat nabi yang berkaitan dengan itu pernah disampaikan. Jadi, beliau menyebutkan bahwa perbuatan korupsi ini kalau direferensi kajian fikih itu atau di hadits itu diistilahkan dengan kata ghulul,” ujar Kiai Hannan saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (18/5/2023).

 

“Jadi, ghulul itu penyimpangan atua penggelapan terhadap uang-uang umat. Nah, jika dikontekskan ke zaman sekarang ini, ghulul ini dimakanai seperti korupsi,” ujar kiai dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini.  

Pada zaman awal perkembangan Islam, menurut Kiai Hannan, Nabi Muhammad SAW pernah memberikan kepada para sahabatnya bahwa orang yang melakukan tindak korupsi itu tidak akan bisa ditolong oleh nabi di akhirat.

“Jadi nabi pernah memberikan nasihat kepada sahabat-sahabatnya bahwa orang yang melakukan ghulul atau penggelapan harta yang bukan menjadi haknya, nanti di akhirat itu tidak akan bsia ditolong oleh nabi. Dalam hadits begitu, yang hadits yang panjang itu,” kata Kiai Hannan.

Inilah isi hadits yang dimaksud Kiai Hannan tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dalam Shahih Muslim, dia mengatakan, suatu hari Nabi Muhammad SAW berpidato di hadapan para sahabat dan berbicara soal penggelapan (ghulul/korupsi).

Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa penggelapan itu suatu perkara yang besar dan mempunyai akibat yang besar pula. Nabi SAW bersabda, "Kelak di hari kiamat, janganlah kutemukan salah seorang kamu (yang menggelapkan atau korup) datang memikul di kuduknya unta yang sedang melenguh-lenguh.

Lalu dia berkata, "Ya Rasulullah! Tolonglah aku!" Lalu Nabi SAW menjawab, "Aku tidak kuasa sedikit pun menolongmu. Bukankah dahulu telah kukatakan kepadamu?"

Nabi SAW bersabda lagi, "Kelak di hari kiamat, janganlah kutemukan salah seorang kamu (yang menggelapkan atau korup) memikul di kuduknya kuda yang meringik-ringik. Lalu dia berkata, "Ya, Rasulullah! Tolonglah aku!" Lalu Nabi SAW menjawab, "Aku tak kuasa sedikit pun menolongmu. Bukankah dahulu telah kukatakan kepadamu?"

Nabi berkata kembali, "Kelak di hari kiamat, janganlah kutemukan salah seorang kamu memikul di kuduknya kambing yang mengembek-ngembek. Lalu dia berkata, "Ya, Rasulullah! Tolonglah aku!" Lalu Nabi SAW menjawab, "Aku tidak kuasa sedikit pun menolongmu. Bukankah dahulu telah kukatakan kepadamu?"

Kemudian Nabi Muhammad berkata lagi, "Kelak di hari kiamat janganlah kutemukan salah seorang kamu memikul orang berteriak-teriak di kuduknya. Lalu dia berkata, "Ya, Rasulullah! Tolonglah aku!" Lantas beliau SAW menjawab, "Aku tidak bisa sedikit pun menolongmu. Bukankah dulu telah kukatakan kepadamu?"

Nabi SAW bersabda lagi, "Kelak di hari kiamat, janganlah kutemukan salah seorang kamu datang kepadaku membawa selembar kain berkibar-kibar di kuduknya, lalu dia berkata, "Ya, Rasulullah! Tolonglah aku!" Lalu beliau SAW menjawab, "Aku tidak bisa sedikit pun menolongmu. Bukankah dulu telah kusampaikan kepadamu?"

Terakhir, Nabi SAW berkata, "Kelak di hari kiamat, janganlah kutemukan salah seorang kamu memikul harta kekayaan berupa emas dan perak di kuduknya, lalu dia berkata, "Ya Rasulullah! Tolonglah aku!" Kemudian beliau SAW menjawab, "Aku tidak bisa sedikit pun menolongmu. Bukankah dahulu telah kukatakan kepadamu?".

Jadi, menurut Kiai Hannan, di dalam hadits panjang itu mereka meminta tolong ketika bertemu dengan nabi. Namun, nabi menyampaikan bahwa beliau tidal mampu untuk menolongnya karena nabi sudah memperingatkan agar tidak melakukan ghulul atau korupsi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement