Sabtu 25 Mar 2023 05:58 WIB

Pengakuan Mengejutkan Pendeta Evangelis Soal Perlakuan Ottoman Terhadap Gereja Yunani

Penguasa Ottoman tak menutup gereja Orthodox selama berkuasa di Yunani

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi gereja. Penguasa Ottoman tak menutup gereja Orthodox selama berkuasa di Yunani

Namun, saat wilayah tersebut direbut dari Ottoman, Raja Otto I justru banyak memerintahkan penutupan gereja, merampas peninggalannya yang berharga, dan menjualnya untuk kepentingan pemerintah.

Hal inilah yang membuat Evangelos Papa nikolaou kemudian membuat pernyataan menohok itu: "Ada yang berkata 'daripada melihat mitra Latin, lebih baik saya melihat turbannya orang Turki'. Saya tidak ingin melihat keduanya. Tapi, jika terpaksa harus memilih, saya lebih memilih Turki daripada orang Latin."

Sekadar informasi, Raja Otto I yang disebut-sebut oleh Evangelos Papanikolaou adalah raja pertama Kerajaan Yunani. Raja Otto I memerintah pada 1832–1862. Raja Otto I bukanlah orang Yunani, dan bukan pula penganut Kristen Orthodox Yunani atau Kristen Orthodox Timur. Raja Otto adalah seorang Khatolik. Lalu, mengapa Raja Otto bisa naik takhta?

Ceritanya, pada 1821 —saat itu Ottoman diperintah Sultan Mahmud II— bangkit perjuang an orang Yunani untuk memerdekakan diri dari Ottoman. Perjuangan yang berlarutlarut tersebut, kemudian menghasilkan pem berian otonomi bagi Yunani pada 1828.

Otonomi tersebut diakui oleh sejumlah negara barat yang saat itu mulai tampil sebagai kekuatan baru dalam percaturan dunia, yaitu Inggris, Prancis, dan Rusia. Namun, status otonomi Yunani di bawah Ottoman tersebut hanya bertahan dua tahun. Pada 1830, Yunani berhasil mendapatkan kemerdekaannya.

Semula, yang diperkirakan naik tahta memimpin negara baru itu adalah seorang bangsa wan Yunani bernama Ioannis Kapodistrias, yang kebetulan sudah menjadi gubernur Yunani sejak 1827.

Namun, dia terbunuh pada 1831. Pada 1832, Perjanjian London memutuskan Yunani berbentuk kerajaan. Namun, ra janya didrop dari luar. Yang menjadi raja pertama adalah Pangeran Otto Friedrich Ludwig dari Bavaria, yang kemudian bergelar Raja Otto I.

Baca juga: Perang Mahadahsyat akan Terjadi Jelang Turunnya Nabi Isa Pertanda Kiamat Besar?

Di bawah Raja Otto I, kondisi Yunani justru semakin tidak menentu. Gereja Orthodox Yunani dilepaskan dari Gereja Orthodox Timur yang berpusat di Istanbul. Karena, dalam tra disi Byzantium, raja merupakan bagian kepe mimpinan gereja.

Setelah dipisahkan, urusan gereja itu pun diserahkan kepada pihak Rusia, namun raja mempertahankan hak vetonya atas keputusan sinode para uskup. Namun, hal itu menimbulkan kecemasan di kalangan penduduk Yunani, karena mereka menilai seorang raja Katolik yang menjadi bagian dari kepala Gereja Orthodox, justru akan melemahkan Gereja Orthodox, apalagi ratunya (Ratu Amalia) adalah seorang Protestan.

 

Selain itu, Yunani terlilit utang dari bankbank Inggris, antara lain bank-bank milik Rotshchild, yang akhirnya berdampak pada warga Yunani. Mereka kemudian dikenakan pajak yang lebih tinggi dibanding jizyah yang mesti mereka bayarkan kepada Ottoman. Ke pemilikan tanah di Yunani juga terkonsentrasi ke tangan segelintir elite.

Hasilnya, orang miskin di Yunani makin bertambah. Berbagai ketidakpuasan itu melahirkan revolusi 1843 yang menuntut perubahan konstitusi dan kudeta 1862 yang membuat Raja Otto jatuh, digantikan Raja George   

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement