Selasa 14 Mar 2023 04:25 WIB

Perlukah Bersabar atas Hilangnya Kenikmatan Dunia?

Di mata orang-orang arif nan bijaksana, kenikmatan dunia tidak ada nilainya.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
Sabar/ilustrasi. Perlukah Bersabar atas Hilangnya Kenikmatan Dunia?
Sabar/ilustrasi. Perlukah Bersabar atas Hilangnya Kenikmatan Dunia?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kenikmatan dunia memang kerap diperebutkan oleh banyak orang. Bukan kerap lagi tapi selalu.

Berebut jabatan tinggi di kantor atau institusi, kuasa politik negara, proyek, dan segala hal keduniaan. Hanya karena gelap mata dan nafsu duniawi.

Baca Juga

Nabi Muhammad SAW pun mengakui, sepeninggalnya umat manusia akan saling memperebutkan dunia. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya kalian akan mendapatkan perebutan atas dunia setelah kematianku." (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik RA)

Lantas pertanyaannya kemudian, bukan bagaimana memenangkan perebutan tersebut, namun pertanyaan utama yang mungkin agak menggelitik ialah perlukah bersabar di tengah situasi di mana kenikmatan dunia menjadi rebutan?

 

Di mata orang-orang arif nan bijaksana, kenikmatan dunia tidak ada nilainya. Maka tidak seharusnya seorang Muslim bersabar atas kehilangan nikmat dunia. Justru kehilangan dunia adalah nikmat dan karunia sehingga sikap yang ditunjukkannya adalah bersyukur.

Seseorang yang bersyukur atas hilangnya kenikmatan dunia tidak bisa disifati sebagai orang yang sabar. Namun, ketika terjadi kelalaian yang memunculkan ketamakan yang bersifat manusiawi, maka di saat inilah pentingnya bersikap sabar.

Namun, bagi hati yang di dalamnya telah menggumpal ma'rifah yang sejati, tidak ada sabar terhadap dunia. Karena ia tidak merasakan apa yang dia sabari darinya, dan atas hal apa pula ia bersabar.

Sepatutnya, setiap insan berdzikir kepada Allah dengan sifat-sifat yang indah yang akan mengantarkannya pada mahabbah. Mengingat Allah dengan sifat-sifat yang sempurna akan mengantarkan diri kita pada mahaabah (keseganan). Dengan tawahhud dalam perbuatan, akan membawa kita pada tawakkal.

Berdzikir dengan keluasan karunia-Nya, akan membawa kita pada harapan yang penuh. Berdzikir dengan kerasnya balasan, akan membawa kita pada rasa takut pada-Nya. Hanya Allah-lah yang memberi nikmat, maka sepantasnya untuk bersyukur kepada-Nya.

Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya." (QS Al Ahzab ayat 41)

sumber : Syajaratul Ma'arif karya Syaikh Al-'Izz bin Abdus Salam (diterjemahkan Samson Rahman MA dan diterbitkan Pustaka Al-Kautsar)
Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement