Kamis 09 Feb 2023 17:32 WIB

Tamparan Keras Ibnu Al-Jauzi Bagi Para Ateis yang Diperdaya Iblis  

Iblis memperdaya para ateis tentang kemustahilan wujudnya Tuhan di dunia

Rep: Fuji E Permana / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi Allah SWT Sang Pencipta alam. Iblis memperdaya para ateis tentang kemustahilan wujudnya Tuhan di dunia
Foto: republika
Ilustrasi Allah SWT Sang Pencipta alam. Iblis memperdaya para ateis tentang kemustahilan wujudnya Tuhan di dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Iblis menyesatkan orang sehingga menjadi ateis. Kepada orang ateis, iblis berbisik bahwa tidak ada Sang Pencipta atau Allah SWT. 

Abu al-Faraj ibn al-Jauzi yang dikenal sebagai Ibnul Jauzi dalam buku Talbis Iblis menjelaskan, Iblis telah membisikkan kepada banyak manusia bahwa tidak ada Pencipta. Segala benda yang ada terjadi tanpa pencipta.

Baca Juga

Orang ateis tidak mengenal Pencipta dengan menggunakan indera dan akal. Karena itu, mereka mengingkari Sang Pencipta. Apakah ada orang yang berakal masih ragu tentang adanya Pencipta? 

Jika seseorang berjalan di sebuah tanah lapang yang tidak ada bangunannya, kemudian beberapa saat kemudian dia berbalik dan mendapatkan sebuah dinding tidak jauh dari tempatnya, tentunya di sana ada seseorang yang membangunnya. 

 

Apakah tanah yang terhampar luas, atap yang ditinggikan, bangunan-bangunan dan tiang-tiang penyangga yang mengagumkan serta penuh hikmah ini kurang menunjukkan tentang adanya Pencipta? 

Ada pernyataan orang-orang Arab, "Anak unta membuktikan adanya unta." Bukankah singgasana yang tinggi dan hamparan kehidupan ini menunjukkan adanya Pencipta Yang Mahalembut dan Mahamengetahui? 

Baca juga: Ketika Sayyidina Hasan Ditolak Dimakamkan Dekat Sang Kakek Muhammad SAW

Jika manusia memperhatikan keadaan dirinya sendiri, tentu sudah cukup sebagai bukti bahwa di dalam jasad ini terkandung berbagai macam hikmah, yang tidak cukup diuraikan dalam satu buku. 

Perhatikanlah, gigi manusia sudah tersusun rapi sesuai fungsinya. Ada gigi yang berfungsi untuk mencabik-cabik makanan, gigi geraham untuk mengunyah agar menjadi lembut, lidah untuk membolak-balik dan mengatur letak makanan. Selanjutnya makanan itu mengalir ke seluruh bagian tubuh menurut kebutuhan masing-masing. 

Ada juga jari-jemari di tangan yang telah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga mudah membuka dan meregang. Bisa digunakan untuk bekerja, tulang-tulangnya tidak berlubang, sehingga tidak mudah retak, sebagian lebih panjang daripada yang lain, agar dapat seimbang disejajarkan.   

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement