Ahad 29 Jan 2023 20:37 WIB

Dendam dan Hasut Saling Berkaitan, Bahayanya pun Sama? Ini Penjelasan Imam Nawawi Banten

Islam mengajarkan agar menghindari dendam dan hasut yang saling berkaitan

Rep: Fuji E Permana / Red: Nashih Nashrullah
Berdoa dijauhkan dari dendam dan hasut (Ilustrasi). Islam mengajarkan agar menghindari dendam dan hasut yang saling berkaitan
Foto: Republika
Berdoa dijauhkan dari dendam dan hasut (Ilustrasi). Islam mengajarkan agar menghindari dendam dan hasut yang saling berkaitan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Syekh Muhammad Nawawi Bin Umar Banten menjelaskan bahwa ada 77 cabang iman, salah satu di antaranya adalah meninggalkan dendam dan hasut. Dendam dan hasut  termasuk penyakit hati dan perbuatan yang tercela. 

Syekh Muhammad Nawawi menjelaskan bahwa dendam adalah buah dari kemarahan, sedangkan letak dari kekuatan marah adalah hati. 

Baca Juga

Marah adalah mendidihnya darah hati untuk menuntut hukuman. Arti dendam adalah hati yang selalu merasa berat dan benci, perasaan tersebut langgeng dan tetap. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Orang mukmin itu bukanlah pendendam."

Definisi dendam adalah benci terhadap kenikmatan yang ada pada orang lain dan senang apabila kenikmatan lenyap dari orang tersebut.

 

Hasut  adalah buah dari dendam, sedangkan dendam adalah buah dari marah. Jadi hasut  adalah cabang dari cabang, sedangkan marah adalah asal dari asal. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam penggalan hadits riwayat Abu Hurairah RA: 

 لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ  اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ 

"Janganlah kamu sekalian saling berbuat hasut . Janganlah saling menambah penawaran. Janganlah saling membenci. Janganlah bercerai-berai. Janganlah salah seorang dari kamu sekalian saling berebut pembeli. Jadilah kamu sekalian para hamba Allah yang bersaudara. Orang Muslim adalah saudara orang Muslim." 

Hadits di atas memiliki arti agar kita jangan saling mengangan-angankan nikmat yang ada pada orang lain hilang. Jangan saling menambah harga dari barang yang dijual oleh orang lain bukan karena senang membelinya, akan tetapi untuk mengecoh orang lain. 

Jangan saling membenci dan saling memalingkan muka karena benci. Jangan saling mengurangi harga barang dagangan bagi seseorang pembeli pada saat khiyar (saat tawar menawar masih berlangsung) dengan mengatakan, "Batalkan membeli barang itu dari si A, aku akan menjual kepadamu barang seperti itu dengan harga yang lebih murah, atau dengan harga seperti itu dengan barang yang lebih bagus." 

Jangan menyibukkan diri untuk melaksanakan ajaran agama Islam seolah-olah kita sekalian adalah anak-anak dari satu orang, sebagaimana sesungguhnya kita adalah para hamba Tuhan Yang Satu. 

Baca juga: Putuskan Bersyahadat, Mualaf JJC Skillz Artis Inggris: Islam Memberi Saya Kedamaian

Hal tersebut didasarkan bahwa sesungguhnya orang Muslim adalah saudara dari orang Muslim lainnya dalam agama. 

Sayyidina Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhu meriwayatkan dari Rasulullah SAW, "Dendam dan hasut  memakan amal kebajikan, sebagaimana api memakan kayu bakar." 

Diceriterakan bahwa iblis pernah datang ke pintu Firaun lalu mengetuknya. Firaun bertanya, "Siapakah yang mengetuk pintu?" Iblis menjawab, "Jika engkau Tuhan, niscaya engkau tidak bodoh." 

Setelah Iblis masuk, dia berkata kepada Firaun, "Apakah engkau tahu orang di bumi ini yang lebih jahat dari pada engkau?" Firaun bertanya, "Siapakah dia?" Jawab iblis, "Orang yang hasut , karena dia akan terjatuh pada bencana ini."  

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement