Jumat 26 Aug 2022 07:16 WIB

Proses Belajarnya Nabi Adam Isyarat Hormati Orang Berilmu

Allah mengajarkan ilmu kepada Nabi Adam.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil
 Proses Belajarnya Nabi Adam Isyarat Hormati Orang Berilmu. Foto:  Jabal Rahmah atau Bukit Kasih Sayang, yang mengkisahkan pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah 300 tahun terpisah
Foto: dok. Kemenag.go.id
Proses Belajarnya Nabi Adam Isyarat Hormati Orang Berilmu. Foto: Jabal Rahmah atau Bukit Kasih Sayang, yang mengkisahkan pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah 300 tahun terpisah

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Proses Nabi Adam diajarkan ilmu langsung oleh Allah SWT menjadi dasar orang yang berilmu itu patut dihormati. Hormat kepada orang berilmu bagian dari adab dalam menuntut ilmu. 

"Karenanya, menghormati insan berilmu adalah adab utama dan pertama sebelum menuntut ilmu itu sendiri," kata Pengasuh Pondok Pesantren Integrasi Quran (PPIQ)-368, Bandung, KH Iskandar Mirza, saat menjelaskan makna surat Al-Baqarah ayat 30-34, kepada Republika, Kamis (25/8/2022).

Baca Juga

Manusia pertama yang memiliki ilmu pengetahuan adalah Nabi Adam AS. Allah SWT yang langsung mengajari Nabi Adam tentang ilmu dan pengetahuan, sehingga dengan ilmu dan pengetahuannya Adam mendapat posisi terhormat, karena pada saat itu malaikat dan iblis yang lebih senior diciptakan diperintahkan Allah SWT untuk bersujud kepada Adam.

Bagaimana Allah mengajari Nabi Adam tentang ilmu diabadikan dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 30-34. Nabi Adam diajarkan tentang ilmu pengetahuan setelah dia selesai diciptakan. 

"Peristiwa penciptaan makhluk bernama kholifah, telah diabadikan Allah SWT dalam Alquran surah al Baqarah ayat 30 -34. Ini merupakan sebuah isyarat bagaimana membedakan prototipe makhluk ciptaan Nya," kata Pengasuh Pondok Pesantren Integrasi Quran (PPIQ)-368, Bandung, KH Iskandar Mirza. 

KH Iskandar Mirza mengatakan, peristiwa penciptaan kholifah ini bukan hanya sekedar proses penciptaan, melainkan juga sebuah proses bagaimana memuliakan makhluk ciptaanNya dan bagaimana pula pola menghormatinya. Sebagaimana yang kita pahami bahwa proses penciptaan makhluk bernama kholifah bukan tanpa protes dari kalangan malaikat, bahkan ada dugaan kuat yang merupakan sisi lemah makhluk ini (fujur) menjadi sosok perusak, pembuat pertumpahan darah (hasrat membunuh) yang dikhawatirkan menjadi dominan bersama nafsu.

Namun jawaban Allah SWT cukup singkat "inni a'lamu maalaa ta'lamuun" menjadi kata kunci bagaimana membedakan manusia dengan makhluk lain termasuk binatang, dengan memunculkan kata "a'lam" Yang merupakan isim tafdhil dari kata "  علم - يعلم - علما " Yang merupakan kata dasar dari ilmu.

Dalam hal ini Allah juga kata KH Iskandar Mirza, mengajarkan etika beradab daripada ilmu. Sehingga pada proses pembuktian insan berilmu pun Allah mengajarkan Nabi Adam AS langsung dengan metode bimbel bersifat personal.

KH Iskandar Mirza mengatakan, pada saat proses pembuktian insan beriman itu digelar, spontanitas kalangan malaikat melakukan pengakuan dan penghormatan pada kekuatan ilmu yang dimiliki Nabi Adam dengan melakukan pensucian jiwa melalui tasbih "subhaanaka laa ilma lanaa illa maa 'allamtana" yang arinya Maha Suci Engkau, sungguh tiadalah kami memiliki ilmu pengetahuan kecuali apa yang Engkau ajarkan.

Sehingga dalam surah al-Mujadilah ayat 11 Allah akan angkat derajat orang berilmu, salah satunya adalah dimuliakan dan dihormati. Penghormatan ini bagian dari adab baru ilmu, dan merupakan pembeda antara insan berilmu dan orang-orang bodoh, bahkan membedakan manusia dan binatang. 

Master Trainer di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Motivasi Spiritual Qurani (MSQ) ini mengungkapkan, kata "sujud" Dalam konteks itu bukan makna sujud haqiqi seperti sujudnya seorang hamba pada Tuhannya, melainkan makna majazi.

"Merasa bodoh dan hormat pada ulama. Sehingga (dengan hormat pada yang berilmu para pencarai ilmu) mudah untuk transformasi ilmu pengetahuan," katanya.

Dari peristiwa bagaimana Allah mengajarkan ilmu kepada Nabi Adam, bolehkah manusia menyampaikan doa dengan melafalkan. 

"Ya Allah ajari aku tentang sesuatu hal ( ilmu) sebagaimana engkau telah mengajarinya kepada Nabi Adam, Daud dan Sulaiman."

KH Iskandar Mirza mengatakan, boleh. Dalilnya ada dalam surah Al-Abiya ayat 79 Allah membenarkan dengan kata "fafahamnaha..."

"Mohon agar diberi ilmu sebagaimana diberikan pada para Nabi dan hati sedekat malaikat dengan Tuhan," katanya.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement