Jumat 15 Jul 2022 00:10 WIB

Inilah Tujuh Golongan yang Selamat Saat Hari Kiamat

Salah satunya adalah seorang penguasa yang adil.

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Ani Nursalikah
 Umat Muslim berdoa di luar Masjid Katedral Moskow saat perayaan di Moskow, Rusia, Sabtu, 9 Juli 2022. Di seluruh dunia, umat Islam akan menandai berakhirnya ibadah haji dengan Idul Adha. Liburan memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya Ismail atas permintaan Tuhan. Muslim secara tradisional menyembelih domba dan sapi, membagi daging di antara yang membutuhkan, teman dan kerabat. Inilah Tujuh Golongan yang Selamat Saat Hari Kiamat
Foto: AP/Alexander Zemlianichenko
Umat Muslim berdoa di luar Masjid Katedral Moskow saat perayaan di Moskow, Rusia, Sabtu, 9 Juli 2022. Di seluruh dunia, umat Islam akan menandai berakhirnya ibadah haji dengan Idul Adha. Liburan memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya Ismail atas permintaan Tuhan. Muslim secara tradisional menyembelih domba dan sapi, membagi daging di antara yang membutuhkan, teman dan kerabat. Inilah Tujuh Golongan yang Selamat Saat Hari Kiamat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terdapat tujuh orang yang Allah SWT lindungi dengan naungannya pada hari yang tidak ada naungan, kecuali naungannya pada hari kiamat. Salah satunya adalah seorang penguasa yang adil.

Dilansir dari About Islam pada Rabu (13/7/2022), banyak perbuatan yang menyelamatkan seseorang di hari kiamat. Maka dari itu, hal tersebut harus dilakukan dari sekarang.

Baca Juga

Berikut tujuh perbuatan agar selamat saat hari kiamat.

Inilah Tujuh Golongan yang Selamat Saat Hari Kiamat

1. Penguasa yang adil

 

Konsep keadilan dalam Islam sangat penting dan merupakan sesuatu yang harus diterapkan oleh Muslim. Penguasa dan yang diperintah dalam segala hal tanpa kecuali.

Keadilan berarti memberikan setiap hak yang layak diterimanya, Muslim atau non-Muslim, kerabat atau orang asing, teman atau musuh.  

Allah berfirman, "Sayangnya, bahkan jika kita mengakui ini secara teori, kita dengan cepat melupakannya dalam praktik. Jadi kita menemukan ketika kita berbicara tentang teman dan orang yang kita cintai, kita memuji mereka tanpa alasan dan ketika kita berbicara tentang mereka yang berbeda dengan kita, kita tidak dapat menemukan kebaikan di dalamnya dan kita memanfaatkan poin buruk mereka".

Hal ini jauh dari keadilan yang Allah kasihi dan berikan pahala yang besar, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut: Mereka adalah orang-orang yang adil dalam memerintah, dengan keluarga mereka dan dalam segala hal yang diberikan otoritas kepada mereka.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement