Rabu 13 Oct 2021 05:10 WIB

Utusan Rasulullah yang Dikirim untuk Ajarkan Islam

Nabi SAW mengirim utusan terutama ke Jazirah Arab bagian selatan.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah
Utusan Rasulullah yang Dikirim untuk Ajarkan Islam
Foto: Pixabay
Utusan Rasulullah yang Dikirim untuk Ajarkan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyebarkan agama Islam tidak bisa hanya melalui Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, ia mengirim berbagai utusan ke beberapa wilayah, terutama Jazirah Arab bagian selatan untuk mengajarkan berbagai prinsip Islam dan hukum-hukumnya.

Maka muncul adanya tuntutan dan kebutuhan guru yang dapat menjelaskan perihal Islam sehingga keyakinan mereka terhadap Islam semakin kukuh. Rasulullah mengutus Khalid bin Walid ke Najran untuk menyerukan penduduk di sana agar memeluk Islam.

Baca Juga

Khalid juga ditugaskan mengajar berbagai prinsip dan hukum-hukum Islam. Ibnu Hisyam dalam Thabaqat mengatakan di Yaman, Rasulullah mengutus Ali.

Selain Ali, Rasulullah mengutus Abu Musa Al-Asy'ari dan Mu'adz bin Jabal ke Yaman. Dia menyebar mereka ke sudut-sudut negara Yaman. Rasulullah berpesan kepada mereka "Permudah, jangan persulit. Berilah kabar gembira, jangan kabar yang membuat mereka lari," (Muttafaq 'alaih).

 

Rasulullah juga berpesan kepada Mu'adz, "Engkau akan menemui kelompok Ahli Kitab. Jika bertemu mereka, serulah mereka agar mau bersaksi tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah dan Muhammad itu utusan Allah. Jika mereka menaatimu, beri tahu mereka bahwa Allah mewajibkan mereka menunaikan sholat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menaatimu, beri tahu mereka bahwa Allah mewajibkan mereka menunaikan zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan akan dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menaatimu, berhati-hatilah engkau. Takutlah pada doa orang yang dizalimi karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah," (Muattafaq 'alaih).

Dalam Musnad, Imam Ahmad menjelaskan Rasulullah keluar bersama Mu'adz ke tengah kota. Nabi berwasiat, sedangkan Mu'adz berada di atas hewan tunggangannya.

Rasulullah berjalan kaki sambil menuntun hewan tunggangannya lalu Rasulullah bersabda, "Wahai Mu'adz! Engkau tidak akan bertemu lagi denganku setelah tahun ini. Engkau akan melewati masjidku ini dan kuburanku." Mu'adz menangis karena akan berpisah dengan Rasulullah. Mu'adz tinggal di Yaman hingga setelah Rasulullah wafat.

Ulama Timur Tengah Said Ramadhan Al-Buthy mengatakan dalam The Great Episodes of Muhammad, wasiat Rasulullah kepada Mu'adz dan Abu Musa Al-Asy'ariy menunjukkan adab seorang dai yang menyeru untuk menyembah Allah. Dia memberi tahu untuk mempermudah bukan mempersulit, memberi kabar gembira harus lebih banyak daripada ancaman dan peringatan.

Ini dapat dilihat saat Rasulullah berpesan kepada Mu'adz. Yakni, ini adalah hal pertama yang disampaikan agar masyarakat mau mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu, serulah mereka untuk menegakkan sholat dan menunaikan zakat.

Bentuk mempermudah dan memberi kabar gembira ketika berdakwah tidak boleh melewati batas-batas yang telah disyariatkaan Islam. Di antara adab berdakwa adalah berhati-hati dengan perkara penggelapan uang, khususnya mencuri karena itu termasuk jenis kezaliman yang berbahaya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement