Selasa 09 Mar 2021 05:35 WIB

Bagaimana Cara Allah Meringankan Cobaan Hamba-Nya?

Cobaan manusia diukur dengan kadar kemampuan manusia itu sendiri.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Ani Nursalikah
Bagaimana Cara Allah Meringankan Cobaan Hamba-Nya?
Foto: AP/Saudi Ministry of Media
Bagaimana Cara Allah Meringankan Cobaan Hamba-Nya?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap cobaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia selalu diukur dengan kadar kemampuan manusia itu sendiri. Namun demikian, Allah SWT menghadiahkan karunia agar cobaan yang dilalui seorang hamba dapat ringan dilalui, bagaimana caranya?

Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam mengatakan: “Liyakhafifa alamal-bala-I anka allamaka bi-annahu subhanau huwal-mubliy laka, falladzi waajahaka minhul-aqdaara huwal-ladzi awwadaka husna al-ikhtiyari." 

Baca Juga

Artinya: “Agar sebuah cobaan terasa ringan untukmu, Allah perlahan menyadarkanmu bahwa Dia-lah yang memberimu cobaan itu. Zat yang menetapkan berbagai macam takdir untukmu adalah zat yang menyiapkan pilihan terbaik bagimu,”.

Ibnu Athaillah menjelaskan, jika seseorang merasa mudah dalam melewati berbagai cobaan, maka ia harus sadar bahwa Allah lah yang mengujimu. Sehingga, menyadari segala cobaan memiliki jalan keluar dari Allah menjadi kunci utama yang harus disadari setiap umat tentang jalan kemudahan menjalani ujian tersebut.

 

Seorang hamba harus menumbuhkan kesadaran dan berbaik sangka kepada Allah SWT dalam kondisi apa pun. Termasuk jika tengah diuji dengan cobaan kecil maupun besar. Ia, kata Ibnu Athaillah, harus yakin dalam ujian dan cobaan trsebut terkandung maslahat yang tersamar bagi dirinya yang tidak dia ketahui.

Hal itu sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 216: “Kutiba alaikumul-qitaalu wa huwa kurhun lakum. Wa asa an takra huwa syai-an wa huwa khairun lakum. Wa asa an tuhibbuu syaian wa huwa syarrun lakum, wallahu ya’lamu wa antum laa ta’lamun,”.

Yang artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,”.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement