Sabtu 13 Jun 2020 13:23 WIB

Sejarah Aliran Maturidiyah (1)

Maturidiyah menentang paham Muktazilah.

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Muhammad Hafil
Sejarah Aliran Maturidiyah (1)
Foto: Blogspot.com
Sejarah Aliran Maturidiyah (1)

REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Setelah wafatnya Khalifah Usman bin Affan dan tampilnya Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah keempat, umat Islam terpecah dalam memberikan dukungan. Ada yang meminta supaya diusut dulu penyebab wafatnya Usman dan siapa dalang di baliknya, sedangkan yang lain meminta ditegakkan dulu posisi khalifah untuk meredakan situasi yang genting.

Kondisi yang ‘mencekam’ itu membuat umat Islam terpecah dalam memberikan dukungan kepada Ali bin Abu Thalib. Ada yang mendukung dan ada pula yang menentangnya. Akibatnya, bermunculan tuduhan saling menyesatkan di antara umat Islam. Bahkan, sampai ada kelompok yang mengafirkan kelompok lain. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan munculnya paham atau aliran teologi (akidah) dalam Islam. Di antara aliran teologi itu, salah satunya adalah aliran Maturidiyah.

Baca Juga

Aliran Maturidiyah merupakan aliran teologi yang bercorak rasional-tradisional. Aliran ini kali pertama muncul di Samarkand, pertengahan kedua abad kesembilan Masehi. Nama aliran itu dinisbahkan dari nama pendirinya, Abu Mansur Muhammad al-Maturidi. Al-Maturidi lahir dan hidup di tengah-tengah iklim keagamaan yang penuh dengan pertentangan pendapat antara Muktazilah dan Asy’ariyah mengenai kemampuan akal manusia.

Aliran ini disebut-sebut memiliki kemiripan dengan Asy’ariyah. Sebelum mendirikan aliran Maturidiyah ini, Abu Mansur al-Maturidi adalah murid dari pendiri Asy’ariyah, yakni Abu Hasan al-Asy’ari.

Dalam Ensiklopedia Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve, disebutkan, pada pertengahan abad ke-3 H terjadi pertentangan yang hebat antara golongan Muktazilah dan para ulama. Sebab, pendapat Muktazilah dianggap menyesatkan umat Islam. Al-Maturidi yang hidup pada masa itu melibatkan diri dalam pertentangan tersebut dengan mengajukan pemikirannya.

Pemikiran-pemikiran al-Maturidi dinilai bertujuan untuk membendung tidak hanya paham Muktazilah, tetapi juga aliran Asy’ariyah. Banyak kalangan yang menilai, pemikirannya itu merupakan jalan tengah antara aliran Muktazilah dan Asy’ariyah. Karena itu, aliran Maturidiyah sering disebut “berada antara teolog Muktazilah dan Asy’ariyah”.

Namun, keduanya (Maturidi dan Asy’ari) secara tegas menentang aliran Muktazilah. Kaum Asy’ari berhadapan dengan Muktazilah di pusatnya, yakni Basrah, sedangkan Maturidi berhadapan di Uzbekistan, di daerah Maturid. Karena itulah, Maturidiyah dan Asy’ariyah dianggap memiliki kesamaan walaupun berbeda aliran.

Menurut Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip Ahmad Hanafi dalam Theology Islam (Ilmu Kalam), yang sering dipermasalahkan keduanya tidak lebih dari 10 soal dan semuanya tidak terlalu prinsip, kecuali hanya istilah. Keduanya membela kepercayaan yang ada dalam Alquran. Dalam usahanya tersebut, keduanya mengikatkan diri pada kepercayaan itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement