Senin 06 May 2024 12:50 WIB

VOC Manfaatkan Potensi Bisnis Perjalanan Ibadah Haji pada Masa Kolonial

VOC selenggarakan pelayaran untuk jamaah haji.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Kapal yang membawa jamaah haji berangkat ke Makkah pada tempo dulu.
Foto: wikipedia
Kapal yang membawa jamaah haji berangkat ke Makkah pada tempo dulu.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ratusan tahun bumi Nusantara mengalami proses Islamisasi yang datang bersamaan dengan aktivitas perdagangan. Para saudagar dari Gujarat, Arab, dan Eropa berdatangan ke berbagai kerajaan di Nusantara untuk mendapatkan rempah-rempah yang sangat bernilai dan berharga mahal. 

Dikemudian hari ada beberapa negara yang menjadi serakah dan menjajah untuk menguasai sumber daya alam bumi Nusantara. Setidaknya ada enam negara yang tercatat pernah menjajah Nusantara sebelum Negara Indonesia lahir, yaitu Spanyol, Portugis, Perancis, Inggris, Belanda atau VOC dan Jepang.

Baca Juga

Peneliti menduga ketika Portugis berkuasa di Malaka pada tahun 1511, ada cukup banyak pelayaran perdagangan yang membawa hasil bumi dari Nusantara melalui laut merah dan pelabuhan Jeddah (di Arab Saudi). Dari pergerakan pelayaran tersebut diyakini tidak hanya terjadi mobilitas barang atau jual beli semata, namun juga mengangkut orang-orang dari wilayah Nusantara yang ingin menunaikan ibadah haji. 

Sayangnya tidak ada naskah yang secara persis mencatat penyelenggaraan haji oleh Spanyol, Portugis, Prancis maupun Inggris. Tetapi ketika Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berkuasa ada banyak naskah yang memuat tentang ibadah haji di masa tersebut.

Ketika kongsi dagang Belanda VOC berkuasa pada 1602-1800, hampir seluruh sektor ekonomi dan bisnis dimonopoli. Pada masa itu, kolonial sudah memiliki aparatur pemerintahan lengkap, bahkan penegak hukum dan undang-undangnya, berikut angkatan bersenjatanya. 

Dilansir dari buku Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa ke Masa yang diterbitkan BPKH tahun 2023. Dijelaskan bahwa VOC juga tercatat campur tangan dalam pemerintahan sejumlah kerajaan di Nusantara. Maka tidak heran situasi ini memunculkan perlawanan raja-raja Nusantara kepada VOC.

VOC Selenggarakan Pelayaran Untuk Jamaah Haji

Salah satu yang menarik perhatian VOC adalah perjalanan ibadah haji yang dilakukan umat Islam dari sejumlah tempat di wilayah Nusantara menuju Tanah Suci Makkah dan Madinah yang mencapai ratusan hingga ribuan orang. 

Bagi VOC, perjalanan ibadah haji adalah potensi bisnis yang besar dan sangat menguntungkan.

Ketika itu belum ada maskapai pelayaran yang khusus mengangkut jamaah haji ke pelabuhan Jeddah. Banyak umat Islam Nusantara yang ingin berhaji namun tidak ada moda transportasi selain kapal layar yang dimiliki kompeni. Belum ada persaingan yang berarti dari maskapai pelayaran negara lain.

VOC kemudian berbuat seenaknya saat mengangkut jamaah haji, dengan mengenakan ongkos yang mahal tetapi tidak diimbangi pelayanan yang baik dan manusiawi serta alakadarnya. 

Penumpang atau jamaah haji ditempatkan di sembarang tempat di sela-sela muatan barang yang diangkut kapal dan berada di buritan tanpa perlindungan dari panas, hujan dan ombak. 

Selain itu maskapai VOC juga tidak bertanggungjawab atas penderitaan yang dialami jamaah haji yang diangkutnya. Jika ada jamaah yang wafat dalam perjalanan akan dimakamkan di pelabuhan terdekat.

Pasca penemuan mesin uap oleh James Watt pada tahun 1769, kemudian dikembangkan untuk pelayaran oleh John Fitch pada tahun 1787 dan Robert Fulton di tahun 1802. Dimulailah era baru haji dengan menggunakan kapal laut bermesin uap yang membuat perjalanan haji menjadi lebih cepat.

Pada tahun 1799, VOC resmi bubar, penanganan haji diambil alih oleh kolonial Belanda. Industri pelayaran semakin berkembang, karena teknologi yang semakin maju. Semakin cepat waktu tempuh juga membuat semakin banyak umat Islam yang ingin berhaji. Potensi bisnis ini ditangkap Belanda dengan mengangkut sebanyak-banyaknya jamaah haji dalam satu pelayaran.

Namun tetap sama saja, kolonial Belanda tidak memberikan fasilitas kesehatan dan keamanan yang memadai kepada jamaah haji. Bahkan, jumlah makanan dalam kapal yang disediakan maskapai pelayaran kolonial Belanda kurang, artinya tidak sebanding dengan jumlah jamaah haji yang diangkut. 

Seringkali barang berharga dan dokumen penting jamaah haji hilang ketika ombak besar menyapu dek kapal di malam hari. Karena tidak sedikit jamaah haji yang harus tidur di dek tanpa kasur, dan ombak besar biasanya datang di malam hari saat gelap gulita.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement