Jumat 29 Mar 2024 17:02 WIB

Kisah Ummu Sulaim yang Menolak Dinikahi Pria yang Masih Musyrik

Ummu Sulaim menunjukkan cintanya kepada Rasulullah.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
 Ummu Sulaim menunjukkan cintanya kepada Rasulullah. Foto:  Ilustrasi  Sahabat Perempuan Nabi - Muslimah
Foto: Pixabay
Ummu Sulaim menunjukkan cintanya kepada Rasulullah. Foto: Ilustrasi Sahabat Perempuan Nabi - Muslimah

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ada kisah yang menarik dan dapat menjadi teladan bagi segenap Muslimah dari sosok wanita bernama Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik RA. Singkat cerita, setelah Ummu Sulaim memeluk Islam, suaminya marah dan pergi meninggalkannya.

Lalu Ummu Sulaim menikah lagi dengan Abu Thalhah. Nah di sinilah kisah menariknya yang menunjukkan kekuatan iman Ummu Sulaim. Saat hendak meminang Ummu Sulaim, Abu Thalhah belum Islam dan masih dalam keadaan musyrik. Ummu Sulaim pun menolak pinangan tersebut.

Baca Juga

Anas bin Malik meriwayatkan dari ibunya sendiri yakni Ummu Sulaim, yang berkata, "Sungguh tidak pantas seorang musyrik menikahiku. Tidakkah engkau tahu wahai Abu Thalhah bahwa berhala-berhala sesembahanmu itu dipahat oleh budak dari suku ini dan itu. Jika kau sulut dengan api pun ia akan terbakar."

Disebutkan dalam "Ibunda Para Ulama" karya Dr Sufyan bin Fuad Baswedan MA, bahwa setelah mendengar perkataan Ummu Sulaim, Abu Thalhah pun pulang ke rumah dan dia menjadi teringat betul dengan kata-kata yang disampaikan oleh Ummu Sulaim. Bahkan sampai membekas di hati Abu Thalhah. "Benar juga," gumamnya.

 

Tak lama kemudian, Abu Thalhah menyatakan keislamannya. "Aku telah menerima agama yang kau tawarkan," kata Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim. Setelah itu berlangsung pernikahan antara keduanya. "Dan Ummu Sulaim tidak meminta mahar apapun selain keislaman Abu Thalhah," demikian kata Anas bin Malik.

Ummu Sulaim adalah salah satu contoh wanita Muslim yang menunjukkan betapa besar kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Suatu kali, Ummu Sulaim pernah mengumpulkan keringat Rasulullah SAW untuk kemudian dicampurkan ke dalam parfumnya.

Hal ini dikisahkan dalam hadits shahih yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim. Sebagaimana hadits berikut ini:

عن‏ ‏أنس ‏عن‏ ‏أم سليم‏ ‏أن النبي ‏‏صلى الله عليه وسلم‏ ‏كان يأتيها‏ ‏فيقيل‏ ‏عندها فتبسط له ‏نطعا‏ ‏فيقيل ‏ ‏عليه وكان كثير العرق فكانت تجمع عرقه فتجعله في الطيب والقوارير فقال النبي‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏يا ‏أم سليم ‏ما هذا قالت عرقك ‏أدوف‏ ‏به طيبي... نرجو بركته لصبياننا، قال: أصبت. وفي رواية: نجعله في طيبنا، وهو من أطيب الطيب.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, dari Ummu Sulaim, diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW dahulu pernah datang ke rumah Ummu Sulaim dan ingin beristirahat dengan tidur siang di rumahnya.

Kemudian Ummu Sulaim menghamparkan kulit sebagai alat tidur Nabi. Ketika tidur, Nabi mengeluarkan banyak keringat. Lalu Ummu Sulaim mengumpulkan keringat itu. Setelah itu dia mencampurnya dengan minyak wangi, kemudian dimasukkannya ke dalam botol-botol kecil.

Lalu Nabi SAW berkata, "Wahai Ummu Sulaim, apa ini?" Ummu Sulaim menjawab, "Ini keringat engkau. Aku mencampurnya dengan parfumku... Kami berharap berkah untuk anak laki-laki kami." Nabi SAW bersabda, "Aku mengerti."

Dalam sebuah riwayat di Shahih Muslim disebutkan, "Kami memasukkannya ke dalam parfum kami, dan itu adalah parfum terbaik."

Dalam hadits tersebut, Nabi SAW menunjukkan persetujuan atas apa yang dilakukan oleh Ummu Sulaim. Artinya, hadits itu menjadi dasar bahwa boleh mencari berkah dari peninggalan beliau SAW. Tentu selama tidak mengarah pada kesyirikan.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement