Rabu 13 Mar 2024 23:37 WIB

Obat Sembuh Dari Penyakit Mengumbar Aib Orang Lain

Hampir semua orang mempunyai aib.

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi Bergunjing Ibarat Memakan Daging Saudara Sendiri. Ilustrasi ghibah mengumbar aib.
Foto: pxhere
Ilustrasi Bergunjing Ibarat Memakan Daging Saudara Sendiri. Ilustrasi ghibah mengumbar aib.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Hampir semua orang mempunyai aib. Dan aib merupakan sesuatu yang berhubungan dengan keburukan yang melekat pada diri seseorang. Apabila dibicarakan akan berpotensi menjadi sesuatu yang lebih buruk lagi.

Syaikh Abu Abdurrahman as-Sullami dalam bukunya "Aib Jiwa dan Obatnya" mengatakan di antara aib jiwa adalah mereka yang mengurusi aib orang lain dibandingkan aib diri sendiri. Ibarat penyakit, mengurusi aib orang lain merupakan penyakit yang membutuhkan pengobatan.

Baca Juga

Menurut Syaikh Abu Abdurrahman obat agar sembuh dari penyakit mengurusi aib orang lain dengan banyak melakukan perjalanan, menahan diri serta mengindahkan nasihat dan mencintai orang-orang sholeh. Jika belum bisa mengobati aib diri sendiri, minimal tidak membicarakan aib orang lain. 

Rasulullah bersabda, “Barang siapa menutupi aib saudaranya sesama muslim, niscaya Allah akan menutupi aurat (aib)nya. Dan, barang siapa mengumbar aurat saudaranya sesama muslim, niscaya Allah akan mengumbar auratnya, hingga Dia mempermalukannya di tengah rumahnya sendiri.” 

Aku mendengar Muhammad bin Abdullah bin Syadzan berkata: Aku mendengar Zadan al-Madayini berkata, “Aku melihat suatu kaum yang memiliki aib. Namun, karena mereka diam (tidak membicarakan) atas aib orang lain, Allah pun menutupi aib mereka. Aib mereka seolah-olah hilang. Aku juga melihat suatu kaum yang sebenarnya tidak memiliki aib. Namun, karena mereka membicarakan aib orang lain, mereka pun seolah memiliki banyak aib.”

Larangan mengumbar air orang lain juga disebutkan dalam Alquran Suran An-Nur ayat 19:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Innal-lażīna yuḥibbūna an tasyī‘al-fāḥisyatu fil-lażīna āmanū lahum ‘ażābun alīm(un), fid-dun-yā wal-ākhirah(ti), wallāhu ya‘lamu wa antum lā ta‘lamūn(a).

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

Terbongkarnya aib dekat dengan menggunjingkan seseorang saat berkumpul dengan teman-teman. Dan agama juga melarang menggunjing.

Ahli hadis, As-Samarqandi dalam bukunya "200 Motivasi Nabi & Kisah Inspiratif Pembangun Jiwa" mengungkapkan tentang bahaya menggunjing. Dalam sebuah hadis, Anas bin Malik berkata, Rasulullah bersabda, "Ketika aku dimikrajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga sedang menggaruk-garuk wajah mereka. Aku bertanya, 'Siapakah mereka, wahai Jibril?' Ia menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang memakan daging sesama manusia dan menodai kehormatan mereka." (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Dan As-Samarqandi mengatakan menggunjing dalam hati juga dilarang. Menurutnya menggunjing dalam hati termasuk ghibah.

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement