Senin 04 Mar 2024 13:29 WIB

Asal Muasal Ide Sapi Merah, Karena Fatwa Kuno yang Disampaikan Rabi Yahudi?

Terdapat dua kementerian yang paling strategis dan berbahaya di Israel.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Benjamin Netanyahu.
Foto: EPA-EFE/RONEN ZVULUN
Benjamin Netanyahu.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Terdapat dua kementerian yang paling strategis dan berbahaya dalam pemerintahan Israel. Dua itu ialah Kementerian Keuangan yang dipimpin Bezalel Smotrich dan Kementerian Keamanan Nasional yang dipimpin Itamar Ben Gvir.

Namun dua kementerian tersebut berada dalam genggaman Zionis, yang mewakili kelompok sayap kanan di Israel. Di sisi lain, Zionis Israel yang sedang dalam kondisi terkuatnya juga tidak mampu mengumpulkan lebih dari 2.200 pemukim ekstremis dalam satu hari untuk menyerbu Masjid Al Aqsa.

Baca Juga

Mengapa demikian? Kolumnis di laman Aljazeera, Dr Abdullah Ma'ruf menjelaskan, penyebab utamanya adalah sikap kelompok Zionis yang mengalah pada pendapat Kepala Rabbi Israel berdasarkan fatwa larangan masuk ke kawasan Masjid Al Aqsa.

Fatwa kuno itu didasarkan pada gagasan tentang kenajisan orang mati, dan juga hukum yang diadopsi oleh Kepala Rabbi yang mensyaratkan kesucian masyarakat sebelum mereka diizinkan memasuki Masjid Al Aqsa. Ini mereka ungkapkan dengan mengatakan "ash shu'uud ilaa jabal al ma'bad" (kenaikan bukit bait suci).

Hal tersebut terkait dengan sapi merah. Kelahiran Sapi Merah secara tidak langsung terkait dengan penghancuran Al Aqsa dan pembangunan Bait Suci, dengan membuka pintu bagi jutaan orang Yahudi di seluruh dunia untuk masuk dan mengubah fatwa larangan masuk itu.

Inilah yang kemudian menimbulkan kegaduhan seputar kedatangan 5 ekor sapi merah dari negara bagian Texas, AS, ke Israel pada November 2022 lalu dan penempatan mereka di sebuah peternakan rahasia. Laman channel 12 Israel mengungkapkan bahwa sapi-sapi itu berada di Lembah Yordan dekat Beit She'an.

Sapi-sapi merah itu ditunggu hingga mencapai usia dua tahun. Kemudian salah satunya disembelih, dan menggunakan abunya dalam proses penyucian umat, lalu memperbolehkan seluruh umat Yahudi di dunia masuk ke Masjid Al Aqsa.

Ide tentang sapi merah sebenarnya kembali pada teks Mishna (penjelasan Taurat) yang merupakan bagian dari kitab Talmud. Teks ini menekankan perlunya kemunculan sapi merah murni yang tidak mempunyai dua helai rambut dengan warna berbeda, yang berarti bahwa hanya dua helai inilah yang boleh memiliki warna berbeda.

Syarat lainnya ialah sapi merah ini tidak pernah digunakan untuk pekerjaan pelayanan apa pun dan tidak ada tali yang dipasang di lehernya. Juga dibesarkan di Tanah Israel.

Lalu ketika mencapai usia dua tahun, sapi merah dapat digunakan dalam proses penyucian yang harus dilakukan di Bukit Zaitun di Yerusalem di seberang Masjid Al-Aqsa, disembelih di tempat khusus, kemudian dibakar dengan ritual khusus, dan abunya digunakan dalam proses penyucian umat Yahudi.

Hanya dengan cara itulah manusia dapat naik ke Rumah Tuhan (yakni Masjidil Aqsha), yakni setelah menjadi suci. Hal ini menjelaskan mengapa sapi-sapi ini ditempatkan di peternakan rahasia. Ketika misalnya ada seseorang datang, menungganginya atau mengalungkan tali di lehernya dan menyeretnya, meski hanya satu meter, sapi tersebut menjadi tidak layak untuk menyelesaikan ritual ini.

Legenda tersebut didasarkan pada fakta bahwa selama dua ribu tahun, seekor sapi merah dengan spesifikasi seperti ini belum pernah dilahirkan. Kemunculan sapi merah dianggap sebagai tanda ketuhanan akan segera dibangunnya Kuil Ketiga dan kemunculan Mesias yang diharapkan di antara mereka.

Kelompok agama sayap kanan di Israel menganggap bahwa kesucian, yang diwakili oleh kehadiran sapi ini dan tata cara penyembelihan dan pembakarannya, adalah syarat yang memungkinkan semua orang Yahudi memasuki area Temple Mount, yang merujuk pada Masjid Al Aqsa.

Kelahiran Sapi Merah yang terkait dengan penghancuran Al Aqsa dan pembangunan Bait Suci secara tidak langsung membuka pintu jutaan umat Yahudi di seluruh dunia untuk memasukinya dan mengubah fatwa kuno larangan masuk.

Namun, ini bukan pertama kalinya ide sapi merah muncul di Israel. Kelompok sayap kanan ekstrim sebelumnya merayakan kemunculan sapi merah sekitar satu setengah dekade yang lalu. Saat itu sapi merah dibesarkan dengan sangat hati-hati di sebuah peternakan rahasia di wilayah Negev.

Meski demikian, para rabi mengumumkan bahwa ada beberapa helai rambut hitam yang muncul di sana, sehingga tidak layak digunakan. Hal ini terjadi lagi 10 tahun yang lalu.

Yang aneh adalah lima ekor sapi merah yang tiba di Israel pada 2022 lalu dan menyebabkan kehebohan tersebut berasal dari negara bagian Texas, Amerika. Setelah sapi-sapi itu dibiakkan dengan dukungan individu yang mengikuti tren Kristen evangelis yang ketat di Amerika Serikat, yang terjadi justru menimbulkan banyak pertanyaan tentang sejauh mana sapi-sapi ini dihasilkan melalui rekayasa genetika hingga benar-benar berwarna merah.

Ironisnya legenda kuno di kalangan Yahudi tidak membuktikan bahwa selama 2000 tahun akan lahir satu sapi merah. Sebab saat ini ada 5 ekor sapi merah, bukan hanya satu. Hal ini jugalah yang membuat beberapa rabi menolak fakta bahwa sapi-sapi itu tidak dilahirkan sejak awal di “Tanah Israel”, meskipun pada akhirnya datang untuk tinggal di Israel hingga mencapai usia dua tahun.

 

sumber : Aljazeera
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement