Rabu 28 Feb 2024 19:12 WIB

Diajak Berbuka Puasa di Restoran Pro Israel, Bagaimana Sikap Kita?

Israel tak henti-hentinya melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina.

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Muhammad Hafil
Hidangan berbuka puasa (Foto: ilustrasi)
Foto: www.pixabay.com
Hidangan berbuka puasa (Foto: ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Beberapa hari lagi umat Islam di dunia akan melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Sebagaimana kebiasaan masyarakat Islam pada umumnya di Indonesia, meluangkan waktu berbuka puasa di restoran-restoran seperti menjadi agends rutin mereka terutama Muslim perkotaan.

Namun ada baiknya restoran yang akan digunakan tempat berbuka puasa baik dan bersih sehingga aktivitas berbuka puasa lebih sempurna. Lalu, apa sikap seorang Muslim apabila diundang berbuka puasa di restoran yang pro Israel? Sebagaimana diketahui Israel tak henti-hentinya melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina. 

Baca Juga

Merujuk kepada keterangan ahli tafsir al-Quran, Prof Quraish Shihab dalam bukunya "Menjawab ?... 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui" ketika menjawab pertanyaan apakah boleh menghadiri jamuan berbuka puasa yang diadalan non-Muslim bahwa sejatinya boleh-boleh saja menghadiri berbuka puasa di mana saja. Sebab, kata Prof Quraish, selama makanan yang disuguhkan halal di makan maka boleh-boleh saja.

Al-Ghazali dalam bukunya, Pergaulan, menyebutkan tentang kewajiban Muslim dalam pergaulan sesama Muslim. Ia menulis ada 26 kewajiban sikap umat Islam terhadap sesama Muslim di antaranya adalah seorang Muslim tidak boleh menyakiti hati Muslim lainnya baik melalui perkataan atau perbuatan.

 

Rasulullah Saw bersabda, "Seorang Muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak mencelakakan kaum Muslim lainnya,"

Rasulullah juga bersabda, "Muslim yang terbaik adalah Muslim yang tangan dan lidahnya tidak mencelakakan  kaum Muslim lainnya."

Dan pada suatu hari, Abu Hurairah RA bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, berilah aku nasihat yang mudah-mudahan bermanfaat bagiku." Lalu Rasulullah bersabda, "Singkirkan apa-apa yang dapat melukai atau menyakiti dari jalan (yang sering dilalui oleh) kaum Muslim."

Merujuk dari hadis-hadis tersebut maka menghadiri undangan berbuka puasa meskipun restoran tersebut pro Israel boleh saja jika tujuannya menghormati umat Islam lainnya. Bersedia hadir memenuhi undangan agar tidak menyakiti umat Islam lainnya sudah jelas perintah Rasulullah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement