Selasa 27 Feb 2024 20:28 WIB

Kisah Sholat Tarawih Pertama Kali

Sholat tarawih hanya dilakukan di bulan Ramadhan.

Rep: Mgrol150/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi Masjid Nabawi tempo dulu.
Foto: Ali Kazuyoshi/ca
Ilustrasi Masjid Nabawi tempo dulu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ada beberapa ibadah yang hanya dilakukan pada saat bulan Ramadhan saja, contohnya sholat tarawih. Sholat tarawih merupakan sholat malam yang dilakukan pada malam hari. Hal itu telah dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwasannya bagi setiap muslim beribadah untuk menghidupi yang pernuh berkah tersebut.

“Menjadi khusus karena memang ada anjuran Nabi SAW yang khusus untuk menghidupi malam-malam Ramadhan dengan banyak ibadah, salah satu adalah mendirikan salat malam Ramadh," kata Ustadz Ahmad Zarkasih, dikutip dari bukunya yang berjudul, Sejarah Tarawih, Selasa (27/02/2024).

Baca Juga

Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk menghidupi malam Ramadhan dengan ibadah, tapi tidak ditentukan ibadah apa yang harus dijalani. Begitu juga dengan shalat yang dianjurkan untuk dilakukan di malam-malam Ramadhan tersebut. Tidak ada anjuran yang eksplisit tentang jumlah rakaat dan format sholat yang seperti apa. 

Para sahabat ketika itu menjalankan apa yang diajurkan dengan format yang tidak teratur dan tidak melakukan dengan urutan yang sama. Sebagian mereka melakukannya di rumah dan sebagian yang lain melakukannya di masjid Nabawi. 

 

Mereka yang di Masjid Nabawi pun mengerjakannya tidak dengan cara yang sama. Beberapa ada yang mengerjakan dengan sendiri-sendiri, dan ada juga yang mengerjakannya dengan berjamaah. Beberapa orang yang berjamaah pun berbeda-beda jumlahnya. Ada yang berjamaah dengan lima orang, ada juga yang berenam, atau bahkan lebih sedikit dari itu. Mereka melakukan sesuai dengan imam yang mereka suka.

Seperti yang dijelaskan pada Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah, "Dari Sayyidina Anas bin Malik ra, Rasul SAW (suatu waktu) pernah salat di bulan Ramadan, lalu aku berdiri di sampingnya (menjadi makmum), dan kemudian diikuti oleh yang lain, lalu nambah dan nambah terus menjadi makmum yang banyak. Ketika Nabi SAW menyadari kehadiranku dan orang-orang yang menjadi makmumnya, Nabi SAW mempercepat salatnya, kemudian ia kembali ke dalam rumah. Ketika di rumah, beliau melakukan salat yang berat."

"Ketika pagi datang, kami bertanya kepada Nabi SAW: “Ya Rasulullah, apakah kau khawatir memberatkan kami?”, Nabi SAW menjawab: “Ya. Itu yang membuatku melakukan itu (mempercepat dan meneruskannya di rumah)”. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement