Jumat 23 Feb 2024 10:38 WIB

Mukmin akan Alami Enam Macam Rasa Ketakutan

Mukmin akan terus istikamah beribadah.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi beribadah.
Foto: EPA-EFE/SHAHZAIB AKBER
Ilustrasi beribadah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam kitab Nashaihul Ibad menyampaikan perkataan sahabat Nabi Muhammad SAW, yakni Utsman bin Affan Radiyallahu anhu. Utsman bin Affan menjelaskan bahwa seorang mukmin pasti memiliki enam macam rasa ketakutan.

Utsman bin Affan Radhiayalahu anhu berkata, "Sesungguhnya orang mukmin akan menghadapi enam macam rasa takut. Yaitu pertama, takut kepada Allah, jangan-jangan dicabut imannya. Kedua, takut kepada para malaikat penjaga, jangan-jangan dicatat hal-hal yang dapat menyingkap kejelekannya nanti pada hari kiamat. Ketiga, takut kepada setan, jangan-jangan membatalkan amal perbuatannya."

Baca Juga

"Keempat, takut kepada malaikat pencabut nyawa, jangan-jangan ia mencabut nyawanya di saat sedang lengah. Kelima, takut kepada dunia, jangan-jangan membuatnya tertipu dan lengah dari akhirat. Keenam, takut kepada keluarga serumah dan sanak famili, jangan-jangan membuatnya sibuk, sehingga lengah dari mengingat Allah." (Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Banteni)

Utsman bin Affan berpendapat bahwa setiap orang yang beriman itu pasti akan mengalami enam rasa ketakutan.

 

Pertama, takut dicabut keimanannya oleh Allah SWT ketika dicabut nyawanya dari dalam dirinya. Sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Mas'ud Radhyalahu anhu bahwa ia pernah berdoa sebagai berikut.

"Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu iman yang tidak kembali murtad, kenikmatan yang tiada habis, bidadari bermata jeli yang tiada hentinya, dan menemani Nabi-Mu Muhammad SAW di surga yang tertinggi lagi kekal abadi."

Kedua, takut kepada malaikat pencatat amal. la takut jangan-jangan malaikat itu telah mencatat amal perbuatannya yang dapat membuatnya malu pada hari kiamat (nanti), dalam hal ini Rasulullah SAW telah bersabda sebagai berikut.

 "Terbukanya kejelekan di dunia, itu lebih ringan daripada terbukanya kejelekan di akhirat." (HR Imam Thabrani)

 

Lihat halaman berikutnya >>>

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement