Senin 19 Feb 2024 08:30 WIB

Wanita-Wanita Muslim dalam Sejarah Sains Islam

Wanita Muslim berperan mengembangkan sains Islam

Rep: Muhyiddin/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi muslimah mengembangkan sains.
Foto: dokpri
Ilustrasi muslimah mengembangkan sains.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sejarah Islam, ada banyak tokoh yang berkontribusi dalam ilmu pengetahuan atau sains. Namun, seringkali kita lupa bahwa ada sosok kaum perempuan yang telah membawa perubahan.  

Selain laki-laki, wanita-wanita Muslim juga memainkan peran penting di dunia Islam pra-modern sebagai cendekiawan, penyair, mistikus, penguasa, dan pejuang.

Baca Juga

Dilansir dari aboutislam, banyak perempuan yang aktif terlibat dalam pelayanan kesehatan pada masa Nabi SAW dan berpraktik di medan perang. Ada yang hanya membantu korban luka, ada pula yang ikut serta dalam peperangan.

Nusaibah binti Ka'ab Al-Anshariyah adalah seorang pejuang dan praktisi medis terkenal. Dikenal juga sebagai Ummu 'Ammara, dia adalah salah satu orang yang paling awal masuk Islam.

Nusaibah paling dikenal karena berperang melawan kaum pagan Makkah dalam Pertempuran Uhud. Ketika tidak sibuk dalam pertempuran, dia merawat tentara yang terluka. Di luar zona pertempuran, dia juga melakukan praktik medis lainnya.

Rufaida binti Saad Al-Aslamiya, yang juga hidup pada zaman Nabi Muhammad SAW, sering disebut sebagai “perawat pertama dalam Islam”. Dia membantu yang terluka selama Pertempuran Badar.

Rufaida memperoleh sebagian besar pengetahuan medisnya dengan membantu ayah dokternya, Saad Al-Aslamy. Dia menjadi ahli tabib, sampai-sampai Nabi memerintahkan semua korban dikirim ke tendanya untuk berobat.

Perawat dan praktisi medis wanita Muslim lainnya yang memasuki medan perang dan mengabdikan waktu dan keterampilan mereka untuk menyembuhkan orang yang terluka pada masa Nabi adalah Ummu Sinan Al-Islamiyah (dikenal juga sebagai Ummu Imara), Ummu Matawi' Al-Aslamiya dan Ummu Waraqa binti Harits.

Berikut para ilmuwan muslimah lainnya yang berkontribusi dalam ilmu pengetahuan:

1. Sutayta al-Mahamali

Banyak wanita Muslim abad pertengahan yang berhasil menekuni matematika seiring dengan minat mereka di bidang lain. Sejarawan seperti Ibnu al-Jauzi, Ibnu al-Khatib Baghdadi dan Ibnu Katsir memuji Sutayta Al-Mahamali, yang diajarkan di bawah pengawasan beberapa ulama.

Sutayta hidup pada paruh kedua abad ke-10 dan berasal dari keluarga terpelajar di Bagdad. Ayahnya adalah seorang sarjana dan hakim yang dihormati.

Sutayta menunjukkan keterampilan luar biasa dalam matematika, yang melampaui kemampuan sederhana dalam melakukan perhitungan. Dia unggul dalam ilmu hisab (hitungan) dan faraidh (ilmu waris).

Sutayta juga memberikan kontribusi berharga di bidang-bidang seperti sastra Arab, hadis, dan yurisprudensi. Beliau wafat pada tahun 377 H/987 M.

2. Lubna dari Kordoba

Lubna dari Kordoba yang merupakan salah satu bangsawan Istana Umayyah di Andalusia juga dikenal karena kecintaannya pada akademisi. Keahliannya dalam menulis, tata bahasa, puisi, matematika dan ilmu-ilmu lainnya tidak ada bandingannya.

Tidak hanya sebagai sosok yang berakal, ia juga menjadi sekretaris istana khalifah Abdul Rahman III dan putranya al-Hakam bin Abdul Rahman.

Dia juga dikenal karena kecintaannya pada buku, dan membangun perpustakaan yang berisi lebih dari setengah juta buku (Ibnu Bashkuwal. Kitab al-Silla. (Kairo, 2008), Jil. 2: 324). 

 

Lihat halaman berikutnya >>>

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement