Jumat 16 Feb 2024 14:00 WIB

Belajar Mensyukuri Kesulitan dari Jalaluddin Rumi

Jalaluddin Rumi dikenal dengan karya-karya puisinya tentang Tuhan.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Erdy Nasrul
Jalaluddin ar-Rumi (ilustrasi).
Foto: quantummethod.org
Jalaluddin ar-Rumi (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap insan pada hakikatnya akan mendapatkan porsi kesulitan dan tantangan hidup sesuai kemampuannya. Karena di balik kesulitan, Allah janjikan kemudahan.

Sufi Jalaluddin Rumi dikenal dengan karya-karya puisinya tentang Tuhan yang menakjubkan kerap kali mengajarkan bagaimana seorang yang beriman agar pandai mengucap syukur. Bukan hanya di waktu senang, tapi juga di waktu sulit. 

Baca Juga

Rumi menuliskan nasihatnya melalui seni, salah satunya puisi. Salah satu puisi sufi ini juga seolah membangunkan semangat di kala hati dan jiwa tertimpa kesulitan.

Dalam buku Belajar Hidup dari Rumi karya Haidar Baghir disebutkan, Jalaluddin Rumi menggambarkan bagaimana harusnya manusia menjalani kesulitan dalam ujian yang diberikan Allah. Sebab adanya ujian itu merupakan jalan untuk menguatkan bagi manusia itu sendiri. Rumi menjabarkannya dalam puisi sebagaimana berikut:

 

Wujud manusia adalah rumah penginapan

Setiap pagi tamu baru

Kegembiraan, kesumpekan, kekejaman

Kadang kesadaran-kesadaran sesaat tiba sebagai tamu kejutan

Sambut dan jamu semua

Bahkan jika itu tumpukan kesedihan,

Yang ganas sapu semua perkakas rumahmu

Boleh jadi ia bersihkan dirimu demi pesona baru

Kesumpekan, rasa malu, kelicikan

Songsong di pintu dengan tawa

Ajak masuk

Syukuri apa saja yang datang

Karena semua diutus

Sebagai pandu dari sana.

 

Jika ujian direnungkan dan diambil hikmahnya, maka kesulitan itu sesungguhnya dapat mematangkan jiwa kita, manusia. Ujian dapat memberikan pencerahan. Keserbaadaan (zona nyaman) justru menurut Rumi dapat melenakan manusia.

Doa ketika dilanda kesulitan

Lihat halaman berikutnya >>>

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement