Kamis 15 Feb 2024 12:10 WIB

Kisah Pembunuhan Berencana Terhadap Sayyidina Ali

Pembunuhan berencana ini terjadi saat Sayyidina Ali sedang beribadah di masjid Kufah.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
 Pembunuhan berencana ini terjadi saat Sayyidina Ali sedang beribadah di masjid Kufah. Foto:  Sahabat Nabi (ilustrasi)
Foto: Dok Republika
Pembunuhan berencana ini terjadi saat Sayyidina Ali sedang beribadah di masjid Kufah. Foto: Sahabat Nabi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pembunuhan berencana terhadap khalifah Islam keempat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib merupakan peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Sayyidina Ali, yang merupakan sepupu dan menantu Nabi Muhammad SAW, dibunuh pada tahun 661 M oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman ibn Muljam. 

Pembunuhan berencana ini terjadi saat Sayyidina Ali sedang beribadah di masjid Kufah, Irak. Pembunuhan itu memunculkan konflik politik di kalangan umat Islam pada masa itu. Lalu bagaimana kisahnya? Ini dia!

Baca Juga

Salah satu sejarawan, Ibnu Jarir mencatat, pada suatu hari berkumpullah tiga orang Khawarij. Mereka adalah Abdurrahman bin Muljam, Burak bin Abdullah, dan Ibnu Bakr At-Tamimi. Mereka berkumpul dan mendiskusikan pembunuhan saudara-saudara mereka dari kaum Nahrawan.

Menurut mereka bertiga, kekacauan di kalangan umat Islam saat itu terjadi karena Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Amr bin Ash. Lalu, mereka pun mengenang teman-teman mereka sesama muslim yang mati ketika berperang antara kubu Ali dengan Muawiyah. Menurut mereka, tak ada gunanya hidup padahal orang-orang yang mati itu adalah orang-orang yang taat beribadah dan taat kepada Allah.

 

Karena itu, mereka berencana memerangi Ali, Muawiyah, dan Amru agar keadaan umat Islam bisa kembali tenang. Mereka bersepakat atas nama Allah, tidak ada yang akan mundur sebelum menuntaskan niatnya itu. Mereka rela berkorban. 

Ibnu Muljam berkata,  "Saya membunuh Ali!"

Burak berkata, "Saya membunuh Muawiyah!"

Ibnu Bakr berkata: "Saya membunuh Amr bin Ash!

Setelah itu, mereka ambil pedang masing-masing dan diberi racun. Mereka bersepakat untuk melaksanakan aksinya pada malam 17 Ramadhan. Tujuan Ibnu Muljam pun berhasil. Dia berhasil menusuk Ali ketika akan pergi sholat Subuh di Masjid Kufah.

Pada saat itu, Ibnu Muljam menjalankan misinya tidak sendiri. Ia ditemani dua orang lainnya yang bertemu di jalan, yaitu Wirdan dan Syubaib. Ketika Ali muncul, orang-orang bergegas bangun untuk sholat Subuh. Ali pun membangunkan mereka. “Sholat-sholat.”

Lalu tiba-tiba, Syubaib menebasnya dengan pedang dan Ali tersungkur, kemudian Ibnu Muljam menebas pundak Ali hingga darahnya mengucur di jenggot. Akhirnya, Ibnu Muljam pun berhasil menikam Ali di Masjid Agung Kufah.

Setelah itu, Ali menyuruh menangkap Ibnu Muljam. Wirdan sempat lolos tetapi ia dipergoki pria dari Hadramaut yang lantas membunuh Wirdan. Hanya Syubaib yang berhasil lolos.  Ibnu Muljam ditangkap dan dibawa ke Ja’dah bin Hubairah bn Abi Wahab, lalu umat Islam melanjutkan sholat Subuh, dan Ali pun kemudian dibawa ke rumah.  

Ketika mendekati ajal, Ali banyak melafazkan kalimat tauhid dan bukan lainnya. Riwayat lain menyebut Ali membaca Surat Al Zalzalah. 

Berbeda dengan Ibnu Muljam yang berhasil menjalankan misinya, Burak justru gagal membunuh Muawiyah. Dia hanya menusuk bagian pinggang Muawiyah, bukan perutnya. Burak pun ditangkap dan kemudian dibunuh.

Sementara, Ibnu Bakr telah menunggu di bilik mihram berselimut kain supaya bisa ditikamnya Amr yang sedang sholat. Namun, rupanya Subuh itu Amr tidak pergi ke masjid lantaran dia sakit perut. 

Karena sakit, dia pun mewakilkan imam kepada orang lain yang bernama Kharijah. Ketika Kharijah yang sholat, ditikamlah dia oleh Ibnu Bakr sehingga membuatnya tewas. Dan, Amr bin Ash yang diincarnya terlepas.

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement