Selasa 13 Feb 2024 20:44 WIB

Cara Alim Ulama Zuhud Menghadapi dan Memaknai Kesulitan Serta Kefakiran 

Kesulitan atau kefakiran adalah hari raya bagi para murid.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
 Kesulitan atau kefakiran adalah hari raya bagi para murid. Foto:  Mendidik hidup sederhana (ilustrasi)
Foto: stuffbyme7.blogspot.com
Kesulitan atau kefakiran adalah hari raya bagi para murid. Foto: Mendidik hidup sederhana (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Hampir semua manusia atau umumnya manusia mungkin akan mengalami momen saat datangnya kesulitan dan kefakiran dalam perjalanan hidupnya di dunia. Sebab, sudah biasa terjadi dalam kehidupan, ada saatnya merasa lapang dan berkecukupan, ada saatnya merasa kesulitan atau mengalami kefakiran.

Namun, cara seorang alim ulama yang zuhud memandang dan memaknai kesulitan dan kefakiran patut dijadikan pelajaran. 

Baca Juga

Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menjelaskan bahwa kesulitan atau kefakiran adalah hari raya bagi para murid. Para murid di sini artinya orang-orang yang sedang melatih diri untuk taqorrub kepada Allah SWT, yakni orang yang sedang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

وُرُودُ الْفَاقَاتِ أَعْيَادُ الْمُرِيدِينَ

 

"Datangnya berbagai kesulitan (kefakiran) adalah hari raya bagi para murid." (Syekh Ibnu Athaillah, Al-Hikam)

Jika kamu ditimpa berbagai musibah dan kesulitan, maka ketahuilah bahwa itu adalah masa-masa yang baik bagi orang-orang yang ingin mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT. Bukankah ketika tertimpa musibah, hati kamu akan patah dan diliputi kesedihan? Kepada siapakah kamu akan mengadu?

Ya, kamu akan menghampiri Allah SWT dengan segenap hati kamu. Tidak ada lagi rasa egois. Kamu akan merasa hina dina di hadapan Allah SWT. Pada waktu itu, hati kamu akan bersih dari segala bentuk ubudiyah kepada selain­-Nya. Artinya hati kamu akan bersih dalam proses mengabdikan diri kepada Allah SWT, menunaikan perintah Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba Allah.

Cobalah kamu perhatikan orang yang terdampar di lautan luas. Tidak ada lagi yang mampu menye­lamatkannya, kecuali Allah SWT. Apakah yang akan ia lakukan pada waktu itu? Tidak ada yang bisa diucapkan dan dilakukannya, kecuali menyerahkan diri sepenuh hati kepada Allah SWT.

Ia akan menangis dan mengikhlaskan segenap usahanya kepada Allah SWT, sambil berharap mudah-mudahan masih ada kehidupan di hari esok.

Begitulah hari raya yang dimaksud dalam bait kata-kata Syekh Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam. Yaitu hari ketika kamu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dzat Yang Maha Pencipta.

Demkian penjelasan perkataan Syekh Ibnu Athaillah sebagaimana dijelaskan penyusun dan penerjemah kitab Al-Hikam, DA Pakih Sati Lc dalam buku Kitab Al-Hikam dan Penjelasannya yang diterbitkan penerbit Noktah tahun 2017.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement