Sabtu 10 Feb 2024 01:50 WIB

Kisah Para Penyalin Kitab di Zaman Kejayaan Islam

Ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam telah mencapai kekuatan yang begitu kuat.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi Kitab kuning
Foto: Republika/Mardiah
Ilustrasi Kitab kuning

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam telah mencapai kekuatan dan keterbukaannya yang begitu lebar. Ini adalah masa ketika banyak terjadi penyalinan kitab dan Alquran dengan tulisan tangan.

Para penyalin itu tidak hanya dari kalangan Islam, tetapi juga kalangan non-Muslim. Bahkan saat itu ada non Muslim yang menyalin Tafsir Ath-Thabari, yaitu seorang filsuf Kristen bernama Yahya bin Adi Al-Laggi (w. 364 H/975 M).

Baca Juga

Hal ini diketahui berdasarkan riwayat Abu Al-Faraj Muhammad bin Ishaq Al-Baghdadi Al-Warraq (Al-Nadim atau Ibnu Al-Nadim, w. 384 H/995 M), dalam buku 'Al-Fihrist'.

Ibnu Al Nadim meriwayatkan bahwa Adi Al-Laggi berkata kepadanya:

 

"Aku menyalin dengan tulisan tanganku dua salinan Tafsir Ath-Thabari (wafat 310 H/922 M) dan membawanya kepada raja-raja di pinggiran, dan aku menulis buku-buku teolog yang tak terhitung jumlahnya."

Selain itu, kisah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi (w. 458 H/1067 M) dalam "Dala'il Al-Nubwah", menceritakan salah seorang intelektual Yahudi yang pandai dalam hal tulisan tangan. Lalu ia masuk Islam dan meriwayatkan kisah perpindahan agamanya kepada Khalifah Abbasiyah Al-Ma'mun.

Orang Yahudi yang masuk Islam pun menjelaskan mengapa dia masuk Islam, dengan berkata:

"Aku membuat tiga salinan Alquran, menambah dan menguranginya, dan aku membawanya ke juru tulis dan mereka memeriksanya. Ketika mereka menemukan di dalamnya penambahan dan pengurangan, mereka membuangnya. Aku tahu bahwa ini adalah kitab yang dijaga, jadi inilah alasan saya masuk Islam."

Kisah itu terkenal karena ia menceritakannya di istana Kekhalifahan Islam pada puncak kekuasaannya. Ahli hadits seperti Al-Bayhaqi menegaskan keaslian salinan tersebut, untuk membuktikan pelestarian Alquran dari perubahan dan distorsi, meskipun penulisnya adalah non-Muslim.

Di masa itu, orang seperti Adi Al-Laggi dan orang Yahudi yang masuk Islam itu disebut dengan Warraq, yakni penyalin kitab dengan tulisan tangannya.

AWAL MULA MUNCULNYA WARRAQ

Islam datang ketika orang-orang Arab hanya tahu cara membaca dan menulis, dan menerjemahkan dari bahasa lain pada cakupan yang lebih sempit. Namun Islam menandai lahirnya "Bangsa Iqra" sejak saat pertama, yang akan memenuhi bumi dengan ilmu dan pengetahuan serta menyibukkan masyarakat dengan budaya dan sastra.

Pengumpulan dan kodifikasi Alquran selesai pada masa kekhalifahan Abu Bakar al-Siddiq. Ini menjadi indikasi pentingnya kodifikasi ilmiah dalam kehidupan. Memasuki abad ke-2 Hijriah atau abad ke-8 Masehi, sumber-sumber ilmu pengetahuan meledak dan siklus produksi lisannya selesai.

Kemudian, penaklukan Islam menyebabkan percampuran dengan peradaban yang berbeda dan sistem budaya yang berbeda dalam aliran dan agama di Irak, Persia, Levant, dan Mesir. Ini memicu perdebatan kontroversial dan akulturasi ilmiah dengan para penulisnya, dan ada kebutuhan untuk menerjemahkan dari bahasa-bahasa tersebut.

Dunia tulis-menulis pun semakin meningkat. Ini dikarenakan dua faktor. Pertama adalah adanya status tinggi yang diperoleh para penulis departemen negara maupun kementerian sejak era Dinasti Umayyah, dan pentingnya hal tersebut meningkat pada masa Dinasti Abbasiyah.

Kedua, penggunaan kertas untuk menulis pada awal masa Bani Abbasiyah, yang dimulai dengan dibangunnya pabrik kertas pertama di Baghdad pada masa Harun al-Rasyid.

Pembuatan buku dengan cepat menjadi sebuah jejak dalam peradaban Islam yang disebut dengan Warraq. Muncullnya kelompok Al-Warraqeen yang berspesialisasi dalam hal tersebut. Al-Warraqeen meliputi semua spektrum intelektual dan sastra masyarakat, serta agama.

Kontrol dan adat istiadat ditetapkan untuknya, tempat dan pasar dialokasikan untuknya, cabang dan spesialisasi muncul di dalamnya, dan uang serta kekayaan dihasilkan untuk pemiliknya.

Secara historis, Warraq dikaitkan dengan profesi menyalin Alquran sebagai penghasilan. Al-Nadim dalam bukunya 'Al-Fihrist' menyebutkan, orang-orang kala itu biasa menulis salinan Alquran dengan biaya tertentu, dan mendokumentasikannya.

Orang pertama yang diketahui ahli dalam menyalin salinan Alquran adalah Amr bin Nafi', budak Umar bin Khattab. Disebutkan bahwa orang yang memiliki tulisan tangan yang bagus ialah Khalid bin Abi Al-Hayyaj.

Adapun orang pertama yang diberi gelar “Al-Warraq” adalah Abu Raja Matar bin Tahman Al-Khorasani Al-Basri (wafat 129 H/748 M), yang terkenal dengan julukannya “Matar Al-Warraq”.

Banyaknya jumlah pelajar ilmu pengetahuan dan meningkatnya keasyikan para ulama dengan keinginan mereka untuk menulis menyebabkan beberapa imam mengambil kertas atau penulis mereka sendiri, sebagaimana setiap penyair menggunakan narator untuk karyanya.

Misalnya Habib bin Abi Habib Al-Madani (w. 218 H/833 M) adalah seorang warraq untuk Imam Malik, sehingga ia dikenal sebagai penulis Malik. Kebiasaan ini kemudian menyebar hingga menyebar ke semua kalangan ulama, sastrawan, bahkan khalifah dan pangeran.

Sumber:

https://www.aljazeera.net/turath/2019/3/25/%D8%A7%D9%84%D9%88%D8%B1%D8%A7%D9%82%D9%88%D9%86-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%B6%D8%A7%D8%B1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%B3%D9%84%D8%A7%D9%85%D9%8A%D8%A9-%D9%8A%D9%87%D9%88%D8%AF%D9%8A

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement