Jumat 09 Feb 2024 12:17 WIB

Ramadhan Satu Bulan Lagi, Lakukan 5 Persiapan Ini untuk Menyambut Bulan Suci

Membayar utang puasa yang telah lalu adalah persiapan yang paling wajib dilakukan.

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah
 Seorang Muslim pergi untuk melakukan sholat maghrib setelah berbuka puasa setelah matahari terbenam pada bulan suci Ramadhan, di luar Masjid Al Farooq di Teluk Emirat Dubai, Uni Emirat Arab.
Foto: EPA-EFE/ALI HAIDER
Seorang Muslim pergi untuk melakukan sholat maghrib setelah berbuka puasa setelah matahari terbenam pada bulan suci Ramadhan, di luar Masjid Al Farooq di Teluk Emirat Dubai, Uni Emirat Arab.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pentingnya persiapan menyambut bulan Ramadhan  sama pentingnya seperti ketika kita hendak kedatangan tamu terhormat, raja, presiden, atau tamu-tamu mulia lainnya. Sehingga tentu kita akan mempersiapkan kedatangan tamu penting tersebut dengan baik dan menyambut dengan sebaik-baiknya sambutan.

Begitu juga dengan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Rasulullah saw dan para sahabatnya telah memberikan kita banyak contoh, nasihat, dan tuntunan dalam persiapan menyambut Ramadhan, serta amalan-amalan yang bisa kita lakukan dałam memantaskan diri sebelum datangnya Ramadhan.

Baca Juga

BACA JUGA: Surat Yasin Lengkap 83 Ayat Arab, Latin, dan Terjemahan

Dikutip dari buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan: Panduan Lengkap Menyambut Bulan Ramadhan dari Sebelum Ramadhan Sampai Setelahnya oleh Abu Maryam Kautsar Amru, berikut ini lima perispan yang bisa kita lakukan sebagai umat Muslim dałam menyambut datangnya bulan mulia itu.

 

Lima Persiapan Menyambut Ramadhan

1. Membayar utang puasa

Jika kita masih punya utang puasa tahun lalu, terutama para wanita yang biasanya berhalangan puasa karena haid. Maka, membayar utang puasa yang telah lalu adalah persiapan yang paling wajib dan paling penting dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

Jangka waktu penggantian puasa ramadhan yang dulu itu adalah sepanjang tahun hingga bulan Sya'ban. Oleh karena itu, hendaklah segera melunasi dan jangan sampai terlambat.

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ قَالَ يَحْيَى الشُّغْلُ مِنْ النَّبِيِّ أَوْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Salamah berkata, Aku mendengar Aisyah radliallahu 'anha berkata:

"Aku berutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadha'nya kecuali pada bulan Sya'ban".

Yahya berkata: "Karena dia sibuk dengan (mengurusi) Nabi atau sibuk karena senantiasa bersama (mengiringi kesibukan) Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ". (Hr. Bukhori)

Selanjutnya...

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement