Kamis 08 Feb 2024 21:48 WIB

Lailatul Miraj dan Alasan Pentingnya Yerusalem Bagi Umat Islam di Dunia

Lailatul Miraj adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi Isra Miraj
Foto: MGIT03
Ilustrasi Isra Miraj

REPUBLIKA.CO.ID,YERUSALEM -- Bagi umat Islam di seluruh dunia, Lailatul Miraj adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam, memperingati perjalanan ajaib Nabi Muhammad SAW dalam semalam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjid Al Aqsa di Yerusalem, diikuti dengan kenaikan sementara beliau ke surga.

Umat ​​Muslim merayakan malam Lailatul Miraj dengan berdoa di masjid, bahu-membahu. Di beberapa belahan dunia, sholat dilaksanakan pada Selasa malam, 6 Februari. Di belahan dunia lain, sholat serupa dijadwalkan berlangsung pada 7 Februari. Hari istimewa itu jatuh pada tanggal 27 Rajab, bulan ketujuh kalender Islam.

Baca Juga

Setiap tahun, ketika malam Lailatul Miraj diperingati, makna historis dan spiritual Yerusalem digarisbawahi. Ada kurang lebih 70 referensi tentang malam Laylat Al Miraj dalam Alquran, dengan penyebutan langsung Al Aqsa dalam 5 ayat, menjadikan tempat tersebut sangat dihormati di mata umat Islam.

Meskipun penting, perayaan Lailatul Miraj di Yerusalem tahun ini dibayangi oleh emosi yang pahit. Umat ​​Muslim telah menghadapi pembatasan ketat dalam sholat di Masjid Al Aqsa selama beberapa bulan di tengah perang brutal Israel di Gaza.

Ketegangan meningkat di Yerusalem, dengan lebih dari 6.500 warga Palestina ditahan di wilayah pendudukan sejak 7 Oktober, dan setidaknya 344 warga Palestina terbunuh.

Ketika ketidakpastian semakin besar mengenai deeskalasi, para ahli mengatakan kepada TRT World bahwa Netanyahu sengaja menjaga ketegangan tetap tinggi di wilayah pendudukan Yerusalem Timur untuk memasukkan semangat keagamaan ke dalam basis pemilih sayap kanannya.

Menyadari Realitas Yerusalem

Berbicara kepada TRT World, akademisi Turki Ozcan Hidir mengatakan bahwa Lailatul Miraj menghidupkan kesadaran umat Islam terhadap Masjid Al Aqsa dan Yerusalem sekaligus mengingatkan mereka akan tanggung jawab agama, sosial budaya, dan politik dalam menjaga kesucian wilayah tersebut.

Profesor dari Universitas Istanbul Sabahattin Zaim, Ozcan Hidir, menjelaskan makna Lailatul Miraj (perjalanan malam) dalam dua dimensi.

“Tahap pertama adalah Isra, di mana Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah secara horizontal menuju Masjid Al Aqsa, dan tahap kedua adalah Miraj (Miraj), Nabi Muhammad SAW naik secara vertikal dari sana (Masjid Al Aqsa) menuju surga. Peristiwa Miraj memiliki makna metafisik.”

Hidir mengatakan dimensi kedua adalah umat Islam selama berabad-abad telah melakukan pengorbanan besar untuk menjaga kesucian Yerusalem dan Masjid Al Aqsa tetap utuh.

Namun, selama 3,5 bulan terakhir, hati umat Islam berduka atas hilangnya nyawa warga Palestina akibat pemboman Israel yang tiada henti, kata Hidir, dilansir dari laman TRT World, Kamis (8/2/2023).

Perang Israel terhadap Palestina, sekali lagi memperkuat kesadaran tentang Yerusalem di hati dan pikiran umat Islam.

Ketegangan Kemungkinan Akan Meningkat

Selama 124 hari terakhir perang, Israel melarang umat Islam melaksanakan sholat Jumat di Al Aqsa. Namun, tadi malam, umat Islam di Yerusalem berhasil melaksanakan sholat malam di dalam masjid suci meskipun ada pembatasan.

Pembatasan ini, menurut Ugur Yasin Asal, Kepala Departemen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional di Universitas Ticaret Istanbul, “sengaja” digunakan oleh Israel sebagai cara untuk menjaga ketegangan tetap tinggi.

Saat berbicara kepada TRT World, Asal mengatakan, “Dia (Netanyahu) mencoba menyampaikan pesan kepada rakyatnya sendiri dan dunia bahwa Israel-lah yang berada di bawah ancaman.”

Oleh karena itu, Asal mencatat, “pembatasan ini adalah konsekuensi dari pilihan politik Israel dalam hal identitasnya yang bermusuhan dan keamanan ontologisnya.”

Lebih lanjut ia menyatakan, “Namun, pilihan ini dibuat dengan mengorbankan keberadaan, hak, dan tuntutan agama komunitas Muslim yang tinggal di sana.”

Asal berpendapat bahwa Israel berupaya untuk membingkai masalah Palestina dalam “konteks eksistensial,” khususnya dengan menyelaraskan diri dengan pemerintahan sayap kanan mereka.

“Kami mengamati adanya pencarian basis dalam politik internal Israel, dan kebijakan ekstrem sayap kanan ini telah menemukan landasan di semua koalisi yang dibentuk dalam empat tahun terakhir, tapi pada awalnya tidak dapat dibangun,” katanya.

Asal percaya bahwa “Netanyahu membuat pilihan yang sangat sadar,” dan pilihan yang meningkatkan ketegangan ini kemungkinan akan terus berlanjut, terutama selama bulan Ramadhan mendatang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement