Kamis 01 Feb 2024 20:13 WIB

Cucu Nabi Pun Melepas Jabatannya, Ini Alasannya

Hasan bin Ali merupakan salah satu cucu Nabi Muhammad SAW.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Sahabat Nabi (ilustrasi)
Foto: Dok Republika
Sahabat Nabi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Hasan bin Ali merupakan salah satu cucu Nabi Muhammad SAW yang sangat masyhur di kalangan Ahlul Bait. Dia dikenal sebagai sosok yang penuh kasih sayang. Hasan diangkat sebagai khalifah setelah ayahnya, Ali bin Abi Thalib dibunuh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam.

Diangkatnya Hasan sebagai khalifah tentu membuat Muawiyah marah. Karena, putra Abu Sufyan tersebut telah berambisi menduduki puncak pimpinan kaum Muslimin.

Baca Juga

Untuk mengurangi ketegangan, Hasan sempat mengajak Muawiyah bergabung dengan pemerintahannya. Namun, Muawiyah menolaknya dan menyiapkan pasukan untuk meneyrang Kuffah.

Hingga akhirnya, Hasan memilih berdamai dan menyerahkan jabatannya sebagai khalifah kepada Muawiyah. Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa cucu Nabi Muhammad SAW, al-Hasan bersedia berunding dengan Muawiyah dan menyerahkan kekhalifahan kepadanya.

 

Menukil buku Hasan dan Husain the Untold Story karya Sayyid Hasan al-Husaini, salah satu alasanya yakni karena Hasan hanya mengharap pahala di sisi Allah SWT. Hasan bersedia menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Muawiyah karena cucu Nabi ini hanya mengharap pahala di sisi Allah dan kebaikan bagi umat Islam.

Nufair al-Hadhrami menuturkan, suatu ketika aku ingin mengetahui tanggapan Hasan terhadap komentar masyarakat tentang dirinya. Aku katakan: “Orang-orang mengatakan bahwa sebenarnya engkau menginginkan jabatan sebagai khalifah”.

Ini merupakan tuduhan keji yang dialamatkan kepada para juru damai. Betapa tidak? Niat baik mereka justru disalahtafsirkan, dan motif mereka malah dipertanyakan. Bagaimana tanggapan Hasan terhadap perkataan Nufair al-Hadhrami?

Hasan berkata: "Ketika itu nasib orang-orang Arab berada digenggamanku, mereka siap berdamai dengan siapa pun yang berdamai denganku, dan siap memerangi siapa pun yang aku perangi. Meskipun demikian, kutinggalkan tampuk kekhalifahan itu demi mengharap wajah Allah (Al Bidayah wan Nihayah dan Adz-Dzurriyyah ath-Thayyibah).

Sungguh tepat keputusan Hasan, dan sikapnya itu benar-benar mencerminkan firman Allah:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS Al-Ḥujurat [49]:10).

Alasan kedua, Hasan ingin mewujudkan janji kakeknya, Nabi Muhammad SAW bahwa Hasan akan menjadi pemimpin yang mendamaikan dua kelompok besar kaum mukminin (yang bertikai). Jaminan ini mendorong Hasan untuk berpikir, menyusun rencana, mempersiapkan dirinya untuk menciptakan perdamaian dan menyingkirkan semua halangan yang menghadang terwujudnya persatuan umat.

Alasan ketiga, Hasan berupaya menjaga nyawa kaum muslimin. Hasan melakukan semua itu, salah satunya, adalah demi menjaga kehormatan dan nyawa kaum muslimin.

Hasan menuturkan: "Aku khawatir jika pada hari Kiamat ada 70 ribu atau 80 ribu orang atau kurang lebih segitu, yang urat nadi di leher mereka terus mengucurkan darah, lalu mereka semua mengadu kepada Allah perihal mengapa darah mereka harus ditumpahkan sia-sia?" (Al Bidayah wan Nihayah).

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement