Jumat 26 Jan 2024 21:45 WIB

Saat Para Ulama Memuliakan Guru-Gurunya

Imam Syafi'i sendiri juga sangat menghormati guru beliau.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG — Setiap pelajar wajib untuk menghormati guru-guru mereka, agar ilmu yang diperoleh dapatkan keberkahan dan bermanfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai pelajar, kita juga diharapkan untuk mematuhi guru kita untuk mencari keridhoannya, selama perintah itu tidak melanggar hukum syar’i.

Adab murid terhadap guru ini, bahkan telah dipraktekkan oleh para ulama terdahulu. Bagaimana mereka juga sangat memuliakan guru-guru mereka, sampai-sampai memohonkan ampunan kepada Allah untuk para gurunya.

Baca Juga

Dikutip dari buku “Hadis Dan Kisah Teladan Untuk Anak Saleh” karya Ariany Syurfah, para ulama memiliki rasa hormat yang sangat tinggi kepada guru mereka. Saking besarnya rasa hormat itu, mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan ilmu yang banyak.

Salah satu dari ulama besar adalah Abu Hanifah. Sebelum menjadi seorang ulama besar, Abu Hanifah belajar kepada banyak guru. Salah satu gurunya bernama Hammad. Abu Hanifah sangat menghormati gurunya tersebut.

 

Bagaimana bentuk penghormatan Abu Hanifah kepada gurunya? Abu Hanifah selalu mendoakan gurunya setelah menunaikan shalat dengan memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Abu Hanifah bahkan mendoakan gurunya tersebut sebelum mendoakan orangtuanya. 

Perbuatan Abu Hanifah ini ternyata menurun kepada muridnya. yaitu Abu Yusuf. la selalu mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan orangtuanya sendiri.

Ulama lainnya adalah Ahmad bin Hambal. Beliau juga sangat menghormati gurunya. Salah satu gurunya adalah Imam Syafi'i. Selama 30 tahun, Imam Ahmad mendoakan dan memintakan ampunan untuk guru beliau Imam Syafii.

Imam Syafi'i sendiri juga sangat menghormati guru beliau, Imam Malik. Sampai-sampai di hadapan Imam Malik, Imam Syafi'i ketika membuka lembaran-lembaran kertas, dilakukannya dengan sangat hati-hati, agar jatuhnya lembaran kertas itu tidak terdengar oleh Imam Malik.

Begitupula dengan muridnya Imam As-Syafi’i, Ar-Rabî’ bin Sulaiman, ia berkata, “Demi Allah, aku tidak berani minum, sedangkan Imam Syafi’I melihat kearahku, karena menghormati beliau.” 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement