Selasa 23 Jan 2024 13:39 WIB

Persaingan Doa Dua Sahabat Nabi Muhammad SAW Sebelum Perang Uhud

Sahabat Nabi Muhammad SAW pernah berdoa agar diberi musuh yang kuat.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad
Foto: Dok Republika
Ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW pernah berdoa agar diberi musuh yang kuat untuk bisa bertempur dengannya pada Perang Uhud. Namun sahabat lain juga memanjatkan doa yang serupa, yaitu berharap diberi musuh yang kuat pada Perang Uhud, tapi dengan sedikit perbedaan isi doa.

Dalam Majma' Al Zawaid, Al-Haitsami menyebutkan apa yang terjadi antara Abdullah bin Jahsy dan Sa'ad bin Abu Waqqas sebelum Perang Uhud.

Baca Juga

Saat itu Abdullah bin Jahsy berkata kepada Sa'ad bin Abu Waqqas di hari Perang Uhud, "Bukankah sebaiknya kita berdoa kepada Allah?"

Kemudian mereka berdua pergi ke tempat yang sepi. Di sini Sa'ad bin Abu Waqqas berdoa, "Ya Allah, jika besok aku bertemu musuh, pertemukan aku dengan orang yang pailng kuat dan keras. Aku akan membunuhnya di jalan-Mu dan kuambil barang miliknya." Abdullah bin Jahsy mengamininya.

 

Kini Abdullah bin Jahsy yang berdoa. Dia memanjatkan doa yang cukup panjang, sebagai berikut:

"Ya Allah, berikanlah aku esok hari seorang musuh yang kuat dan keras agar aku bisa bertempur dengannya dan ia mampu menandingiku. Kemudian ia membunuhku dan merampas barang milikku, lalu memotong hidung dan kedua telingaku sehingga kelak jika aku menghadap-Mu dan Engkau bertanya, 'Hai Abdullah, kenapa hidung dan telingamu terpotong?' Aku akan menjawab, 'Karena Engkau dan Rasul-Mu.'"

Setelah perang Uhud, Sa'ad bin Abu Waqqas mengakui, "Doa Abdullah lebih baik daripada doaku. Aku melihatnya terbunuh di ujung siang. Hidung kedua telinganya dirangkai dengan seutas benang."

Al-Zubair bin Bikar meriwayatkan, dalam Perang Uhud, pedang Abdullah bin Jahsy patah. Kemudian Nabi SAW memberinya pelepah kurma yang bengkok (Arjun Nakhlah). Ketika ia menggenggamnya, pelepah itu berubah menjadi pedang. Karena itulah pedang itu dinamai Al Arjun.

Orang yang membunuh Abdullah bin Jahsy dalam Perang Uhud adalah Abul Hakam bin Al Akhnas bin Syuraiq Al Tsaqafi. Abdullah terbunuh ketika usiannya mencapai 40 tahun lebih, dan dimakamkan di satu lubang bersama Hamzah bin Abdul Muthalib.

Setelah Abdullah bin Jahsy wafat, Nabi SAW menjadi wali atas harta peninggalannya. Kemudian beliau membeli harta peninggalan tersebut, dengan kekayaan yang didapatkan dari Perang Khaibar. Kemudian beliau memberikannya kepada putra Abdullah bin Jahsy.

Siapa Abdullah bin Jahsy? Dalam "Ensiklopedi Biografi Sahabat Nabi: Kisah Hidup 154 Wisudawan Madrasah Rasulullah SAW" karya Muhammad Raji Hasan Kinas terbitan Zaman (terj. Nafahat 'Athirah fi Sirah Shahabat Rasulillah SAW), disebutkan bahwa Abdullah bin Jahsy adalah keturunan suku Asadi. Ayahnya bernama Jahsy bin Riab bin Ya'mar bin Shabirah bin Murrah.

Sedangkan ibunya bernama Umaimah binti Abdul Muthalib. Ibunya Abdullah bin Jahsy merupakan bibi Nabi Muhammad SAW.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement