Ahad 21 Jan 2024 21:32 WIB

Menyambut Malam Pertama di Alam Kubur

Jabatan tak berlaku di alam kubur.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi kuburan
Foto: Wikipedia
Ilustrasi kuburan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketika seorang Muslim hendak menyambut malam pertama di alam kubur, maka ia harus menyiapkannya dengan amalan yang baik. 

Sebab malam pertama di alam kubur ditentukan dengan amalan manusia yang bersangkutan semasa hidupnya. Rasulullah SAW sendiri bahkan menjamin bahwa setiap manusia pasti akan mengalami sensasi malam pertamanya di alam kubur.

Baca Juga

Dalam buku Malam Pertama di Alam Kubur karya Aidh Al Qarni dijelaskan, meskipun manusia memiliki usia hingga seribu tahun lamanya di dunia, namun ia tidak akan bisa lolos dari sensasi malam pertama di alam kubur. Kesenangan dan kesedihan selama hidup di dunia pun dijabarkan tidak akan sebanding dengan sensasi malam pertama di liang kubur.

Maka untuk menyambut malam pertama di alam kubur itu, umat Islam perlu menyimak tuntunan agama. Sebab Rasulullah SAW berkata, “Liang kubur bisa jadi salah satu taman surga atau salah satu lubang neraka."

 

Maka suatu ketika Sayyidina Utsman bin Affan mengantar jenazah ke sebuah makam, lalu kemudian Sayyidina Utsman menangis hingga pingsan. Lalu para sahabat yang lain menggotongnya ke rumah dan kemudian setelah siuman, orang-orang bertanya kepadanya mengapa beliau menangis hingga jatuh pingsan.

Sayyidina Utsman pun menjawab, “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata: liang kubur adalah tempat akhir pertama yang kita singgahi. Jika seorang hamba selamat di dalamnya, ia akan beruntung dan bahagia. Namun jika ia gagal, naudzubillah, niscaya ia akan kehilangan semua akhiratnya."

Maka demikian dijelaskan, jika amal seseorang di dunia baik maka hasil yang diraih akan lebih mulia di sisi Tuhannya. Namun jika amal perbuatannya buruk, maka hasil yang diraih pun akan menjadi buruk di malam pertama alam kuburnya.

Jabatan tak berlaku di alam kubur

Jika seseorang mendatangi alam kubur seorang raja, seorang jelata, orang kaya, dan orang miskin, maka jabatan-jabatan selama hidup itu bukanlah menjadi penanda keagungan atau kehinaan bagi penghuni di dalamnya. Jabatan hingga status sosial seseorang hanyalah kefanaan hidup, mereka hanya ditolong dengan amal perbuatan mereka selama hidup dulu.

Jika dengan kekayaan yang diberikan Allah ia mampu berlaku baik, maka sensasi malam pertama di alam kuburnya pun akan baik, begitu sebaliknya. Begitu pun dengan orang yang dengan kemiskinannya tetap mampu menjadi hamba yang shaleh, maka ia akan mendapatkan ganjaran setimpal di alam kuburnya. 

Namun jika karena kemiskinannya ia malah menjadi kufur, maka ia termasuk bagian dari orang yang merugi dan akan mendapatkan sensasi menyakitkan pada malam pertama alam kubur. Begitulah, dunia tak abadi. Keabadian hanyalah pada kehidupan akhirat yang kekal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement