Ahad 21 Jan 2024 21:30 WIB

Kisah Ibnu Sina Sembuhkan Orang Sakit Jiwa yang Minta Disembelih

Ibnu Sina pun turun tangan menangani orang sakit jiwa itu.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Ibnu Sina (ilustrasi).
Foto: salem-news.com
Ibnu Sina (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ilmuwan Muslim, Ibnu Sina, pernah merawat seorang pasien sakit jiwa yang menganggap dirinya adalah seekor sapi. Orang ini meminta keluarganya untuk menyembelih dirinya. Dia juga menolak makan dan minum.

Ibnu Sina pun turun tangan menangani orang sakit jiwa itu. Dia datang sambil membawa pisau dan meminta agar si penderita sakit jiwa diikat, untuk kemudian disembelih.

Baca Juga

Saat mau menyembelih, Ibnu Sina menyampaikan, sapi ini terlalu lemah dan tidak bertenaga, sehingga harus digemukkan terlebih dulu sebelum disembelih. Si penderita sakit jiwa tersebut pun mulai nafsu makan agar dirinya bisa disembelih dengan cepat.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Dia tidak jadi disembelih dan malah sembuh setelahnya, menjadi bertenaga kembali. Penyakit sarafnya sembuh. Dia pulih total dan kembali mendapatkan akal sehatnya.

 

Metode yang diterapkan oleh Ibnu Sina dikenal dengan metode terapi imajinasi. Dia menanamkan gambaran-gambaran tertentu ke dalam pikiran pasien untuk membantu mengatasi sakit jiwa yang dialami.

Para ilmuwan seperti Ibnu Sina dan lainnya telah mengklasifikasikan sakit jiwa, dan yang paling mendominasi adalah sakit jiwa melankolia atau suasana hati yang gelap, lalu ingin membagikan perasaan tersebut.

Ilmuwan Muslim telah menulis lusinan tulisan secara khusus tentang melankolia. Tulisan-tulisan mereka mengenai sakit jiwa dan pengobatannya sangat luas. Ishaq bin Imran menulis soal malankolia. Ibnu Haitsam menulis tentang pengaruh musik terhadap jiwa.

Orang-orang Arab pada masa itu jago dalam mendiagnosa sakit jiwa dengan mempelajari lingkungan keluarga, sosial dan material di mana orang sakit jiwa itu menjalani kehidupan.

Pengobatan sakit jiwa di zaman Arab kuno, sama sekali tidak menggunakan kekerasan, baik itu pemukulan, penganiayaan ataupun kelaparan pasien. Mereka mengalihkan pengobatan sakit jiwa dari yang sifatnya takhayul ke aspek praktis dan ilmiah murni.

Sejak zaman pra Islam, masyarakat Arab menganggap bahwa sakit jiwa bisa disebabkan oleh kekurangan bahan makanan tertentu, sehingga mereka berusaha mengobatinya dengan mencari makanan tersebut dan memberikannya kepada pasien. Namun penyebab lain menurut masyarakat Arab pra Islam, yaitu karena kerasukan setan dan jin.

Saat itu, dalam syair-syair mereka, sakit jiwa diasosiasikan dengan rasa tergila-gila dan cinta. Karena masyarakat percaya bahwa rasa tergila-gila dan keterikatan yang ekstrem pada orang yang dicintai dapat menyebabkan seseorang kehilangan akal sehatnya.

Para penyair yang terlampau hanyut dalam nafsu cintanya itu, disebut Al Majanin (orang-orang gila), seperti Majnun Laila, Majnun Butsaina, dan julukan-julukan lainnya.

Adapun Ibnu Sina dalam kitabnya berjudul Al Qanun, memasukkan satu bab khusus tentang cinta (Al 'Isyq). Pandangan Ibnu Sina tentang cinta, sebagai berikut:

 "هذا مرض وسواسي شبيه بالمالينخوليا؛ يكون الإنسان قد جلبه إلى نفسه بتسليط فكرته على استحسان بعض الصور، والشمائل التي له، ثم أعانته على ذلك شهوته، أو لم تعن".

"Ini adalah penyakit obsesif yang mirip dengan melankolia, yang membuat seseorang ada dalam fokus pikiran yang menginginkan sebuah gambaran dan kualitas tertentu yang dimilikinya. Keinginan tersebut membantu mendorongnya ke dalam nafsu yang diinginkan, atau tidak membantu."

Ibnu Sina kemudian mengkaji situasi kejiwaan semacam itu. Dan dia menyarankan sejumlah terapi pengobatan. Terapi ini meliputi tidur, mengonsumsi makanan yang tepat, mengalihkan fokus perhatian pada urusan dan kepentingan yang lain, dan cara yang mirip dengan metode terapi perilaku yang diterapkan di era modern sekarang ini.

Di era Dinasti Bani Umayyah, didirikan rumah sakit yang juga difungsikan untuk merawat orang sakit jiwa. Rumah sakit yang bernama Bimaristan ini didirikan oleh Khalifah Bani Umayyah Al Walid bin Abdul Malik, yang kemudian dianggap sebagai orang pertama yang mendirikan rumah sakit untuk orang sakit jiwa.

Markas besar Bimaristan berada di Damaskus pada sekitar tahun 770 M. Pada saat itu dia bahkan memerintahkan pembayaran upah kepada pasien, merawat mereka secara gratis, dan mengkarantina mereka sampai mereka pulih.

Meski awalnya ditujukan untuk pasien kusta dengan mengisolasi mereka dari masyarakat, Bimaristan juga mencakup perawatan terhadap orang sakit jiwa. Keduanya, baik pasien kusta dan sakit jiwa, merupakan ancaman sosial karena menimbulkan masalah yang tak disangka-sangka di tengah masyarakat.

Fungsi perawatan orang sakit jiwa pada Bimaristan merupakan bagian dari reformasi menyeluruh dalam kehidupan, termasuk kepada orang-orang berkebutuhan khusus.

Namun, sejarah pengobatan di kalangan Arab dan Muslim pada umumnya dikaitkan dengan konsep penyembuhan melalui pengobatan jiwa, di mana penyebab banyak penyakit dikaitkan dengan aspek spiritual dan ketidakseimbangan jiwa. Karena itu, pengobatan jiwa dianggap sebagai pintu gerbang utama pengobatan pada periode awal.

Di sisi lain, ada penyakit kejiwaan bersifat langsung, yaitu gangguan jiwa dan perilaku serta delirium. Namun yang paling menonjol adalah gangguan pikiran yang disebut "junun".

Al Isyq, atau cinta, bahkan juga diklasifikasikan sebagai penyakit kejiwaan dan sejenis gangguan jiwa serta penyakit pikiran. Perawatan orang sakit jiwa di masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah dilakukan melalui berbagai cara.

Antara lain, membasuh badan dengan air di pagi hari, berjalan kaki, mendaki gunung, hingga mencium wangi bunga alam di taman-taman. Musik juga digunakan dalam pengobatan, dan opium juga digunakan dalam kadar yang berbeda-beda.

Sumber:

https://www.alarabiya.net/medicine-and-health/2017/10/09/%D9%85%D8%B9%D9%84%D9%88%D9%85%D8%A7%D8%AA-%D9%82%D8%AF-%D8%AA%D9%81%D8%A7%D8%AC%D8%A6%D9%83-%D8%B9%D9%86-%D8%AA%D8%A7%D8%B1%D9%8A%D8%AE-%D8%A7%D9%84%D8%B7%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%81%D8%B3%D9%8A-%D8%B9%D9%86%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%B1%D8%A8

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement