Ahad 21 Jan 2024 17:45 WIB

Sejarah dan Kiprah Muslimat NU

Muslimat NU juga aktif dalam advokasi hak-hak perempuan.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan saat Harlah Muslimat NU ke-78 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (20/1/2024). Dalam rangka menyambut Harlah Muslimat NU ke-78, Pimpinan Pusat Muslimat Nadhlatul Ulama mengadakan dzikir, doa dan sholawat untuk kemaslahatan bangsa.
Foto: ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha
Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan saat Harlah Muslimat NU ke-78 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (20/1/2024). Dalam rangka menyambut Harlah Muslimat NU ke-78, Pimpinan Pusat Muslimat Nadhlatul Ulama mengadakan dzikir, doa dan sholawat untuk kemaslahatan bangsa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muslimat NU adalah organisasi perempuan yang berasal dari Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Didirikan di Purwokerto pada 29 Maret 1946, Muslimat NU memiliki peran penting dalam membina dan mengembangkan muslimah, serta mengabdi pada masyarakat. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan kesehatan untuk mendukung kesejahteraan umat.

Selama sejarahnya, Muslimat NU juga aktif dalam advokasi hak-hak perempuan, promosi pendidikan, dan pengembangan keterampilan. Organisasi ini terus berkontribusi dalam memajukan peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.

Baca Juga

Kemunculan organisasi Muslimat NU dapat dikatakan bermula sejak Kongres ke-13 Nahdlatul Ulama (NU) di Menes, Banten, pada 1938. Banyak warga NU yang menganggap kongres tersebut istimewa. Sebab, untuk pertama kalinya tampil representasi Muslimah.

Di dalam forum kongres itu, dua orang tokoh Muslimah tampil sebagai pembicara. Mereka adalah Nyonya R Djuaesih dan Nyonya Siti Sarah. Keduanya pun menjadi prempuan pertama yang naik mimbar dalam forum resmi organisasi NU. Keduanya berbicara tentang perlunya kaum perempuan Nahdliyin untuk memeroleh hak yang sama dengan laki-laki dalam menerima pendidikan agama melalui organisasi NU.

 

Sesudah pelaksanaan Kongres NU di Menes itu, kaum perempuan secara resmi diterima menjadi anggota NU. Kendati demikian, sifat keanggotannya masih sebagai penyimak atau pengikut saja, belum bisa menduduki kursi kepengurusan.

Setahun kemudian, tepatnya pada Muktamar NU ke-14 di Magelang, saat Ny Djuaesih mendapat tugas memimpin rapat khusus wanita oleh RH Muchtar (utusan NU Banyumas) yang waktu itu dihadiri perwakilan dari daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Forum itu pun menghasilkan rumusan pentingnya peranan wanita NU dalam organisasi NU, masyarakat, pendidikan, dan dakwah.

Akhirnya pada 29 Maret 1946, bertepatan tanggal 26 Rabiul Akhir 1365 H, keinginan jamaah perempuan NU untuk berorganisasi diterima secara bulat oleh para utusan Muktamar NU ke-16 di Purwokerto. Dalam penutupan kongres ini, secara resmi dibentuklah Nahdloetul Oelama Muslimat (NOM). 

Peristiwa itu terjadi pada 29 Maret 1946. NOM bervisi sebagai wadah perjuangan wanita Islam ahlus sunnah wa al-jamaah (Aswaja) yang berkiprah untuk agama, bangsa dan negara. Hari inilah yang di kemudian diperingati sebagai hari lahir Muslimat NU sampai sekarang.

Chadidjah, yakni istri Kiai Dahlan Pasuruan, dipercaya sebagai ketuanya. Jabatan itu terus diembannya hingga dua tahun berikutnya. Pada Muktamar NU ke-19 di Palembang, Sumatra Selatan, tanggal 28 Mei 1952, NOM diubah menjadi badan otonom di bawah NU. Namanya diganti menjadi Muslimat NU. 

Hingga kini, Muslimat NU telah mengalami lima kali pergantian kepemimpinan. Berikut para ketua umum PP Muslimat NU dari masa ke masa yaitu :

1. Ny. Chodijah Dahlan (1946-1947)

2. Ny. Yasin (1947-1950)

3. Ny. Hj. Mahmudah Mawardi (1950-1979)

4. Hj. Asmah Syahruni (1979-1995)

5. Hj. Aisyah Hamid Baidlawi (1995-2000)

6. Hj. Khofifah Indar Parawansa (2000- sekarang). 

Sebagaimana dilansir dari situs resmis Muslimat NU, sampai sekarang Muslimat NU telah banyak berkiprah dalam bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, serta layanan sosial dan kesehatan. Dalam bidang dakwah misalnya, Muslimat NU sekarang mempunyai lembaga Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim (Hidmat) Muslimat NU. 

Sedangkan, untuk layanan pendidikan, Muslimat NU mempunyai 9.800 Taman Kanak-Kanak dan Rauddlotul Athfal (TK/RA), 350 Taman Pendidikan Alquran, dan 6226 Pendididkan Anak Usia Dini (PAUD). Untuk bidang ekonomi, Muslimat NU memiliki satu Induk Koperasi Induk An-Nisa’, 9 Koperasi Sekunder, 144 Koperasi Primer yang berbadan Hukum, dan 355 Tempat Pelayanan Anggota Koperasi (TPAK). 

Lalu, untuk layanan sosial dan kesehatan, Muslimat NU memiliki 104 Panti Asuhan, 10 Asrama Putri, 10 panti Jompo, dan 108 Pusat Layanan Kesehatan (RS/RSB/Klinik). Tidak hanya itu, Muslimat NU juga mempunyai 11 Balai Latihan Kerja (BLK) dan 146 Kelompok Bimbingan Ibadah Haji. 

Di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa, Muslimat NU terus memperlebar sayapnya. Sekretaris V PP Muslimat NU, Arifah Choiri Fauzi mengungkapkan, jumlah keseluruhan anggota Muslimat NU sampai sekarang sudah mencapai 32 juta. 

"Ada 32 juta, baik di dalam negeri maupun luar negeri," ujar Arifah saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (21/1/2024). 

Jumlah Muslimat NU tersebut tersebar di 34 Pimpinan Wilayah (tingkat provinsi), 532 Pimpinan Cabang (tingkat kabupaten/kota), 5.222  Pimpinan Anak Cabang (tingkat kecamatan), dan 36 ribu Pimpinan Ranting (tingkat kelurahan/desa).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement