Senin 15 Jan 2024 14:54 WIB

Belanda Buang Ulama dan Bangsawan Makassar ke Afrika Selatan, Islam Jadi Menyebar di Sana

Syekh Yusuf Makassar dinilai salah satu penyebar Islam di Afrika Selatan.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Syekh Yusuf Al-Makassari , ulama Nusantara yang berdakwah di Afrika Selatan(ilustrasi).
Foto: majalahversi.com
Syekh Yusuf Al-Makassari , ulama Nusantara yang berdakwah di Afrika Selatan(ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pada akhir tahun 1600-an, banyak pria Muslim yang kaya dan berpengaruh dibuang ke Cape Town (Cape of Good Hope/Tanjung Harapan) di Afrika Selatan dari Tanah Air mereka di Timur (Indonesia). Mereka dibuang oleh Belanda yang menguasai dan menjajah kepulauan Nusantara atau yang disebut Indonesia setelah merdeka.

Belanda takut terhadap Muslim kaya dan berpengaruh di berbagai wilayah Nusantara. Sehingga mereka dianggap sebagai ancaman terhadap hegemoni politik dan ekonomi yang dilakukan Belanda terhadap wilayah jajahannya.

Baca Juga

Orang buangan politik pertama atau Orang Cayen adalah orang berpengaruh dan berkuasa dari Sumatra. Kemudian, Syekh Yusuf dari Makassar adalah orang Cayen yang paling terkenal. 

Syekh Yusuf lahir pada tahun 1626, ketika lahir diberi nama Abadin Tadia Tjoessoep, nama yang diberikan Sultan Penguasa Kerjaan Gowa pertama yang beragama Islam, sultan ini juga kerabat ibunya Syekh Yusuf.

Kesultanan Gowa sering disebut Kerajaan Gowa atau Kerajaan Gowa Tallo atau Kesultanan Makassar adalah sebuah Kesultanan yang berpusat di daerah Sulawesi Selatan. 

Syekh Yusuf dari Kerajaan Gowa pindah ke Banten dan berjuang bersama Sultan Agung dari Banten melawan penjajah Belanda. 

Dua kali Syekh Yusuf melarikan diri dari tahanan Belanda. Namun akhirnya Syekh Yusuf dapat dibujuk oleh Belanda pada tahun 1694, agar Syekh Yusuf menyerah dengan dijanjikan pengampunan dari Belanda. 

Belanda tidak menepati janjinya dan Syekh Yusuf dibuang, bersama keluarga dan pengikutnya, ke Kastil di Batavia (bernama Jakarta saat ini). Kemudian Syekh Yusuf dipindahkan di bawah pengawalan bersenjata ke Kastil di Kolombo, Ceylon (sekarang disebut sebagai Sri Lanka). 

Khawatir akan pengaruh Syekh Yusuf di Ceylon (Sri Lanka), Belanda mengasingkannya ke Tanjung Harapan (di Cape Town, Afrika Selatan) sepuluh tahun setelah menyerahnya Syekh Yusuf. 

Syekh Yusuf tiba di kapal De Voetboog pada tanggal 2 April 1694 bersama rombongannya yang berjumlah 49 orang termasuk dua istrinya (Carecontoe dan Carepane), dua pembantu perempuan (Mu'minah dan Na'imah), 12 anak, 12 imam (pemimpin agama) dan beberapa teman bersama keluarganya. 

Begitu tiba di Afrika Selatan, Syekh Yusuf disambut secara meriah oleh Gubernur Simon Van Der Stel di Cape. Syekh Yusuf dan 49 rombongannya dipindahkan ke sebuah peternakan di Zandvleit (, dekat muara Sungai Eerste di Tanjung Harapan pada tanggal 14 Juni 1694.

Upaya Belanda untuk mengisolasi Syekh Yusuf di Zandvliet (dekat Cape Town) tidak berhasil. Ternyata, Zandvliet ternyata menjadi tempat berkumpulnya budak-budak "buronan" dan orang-orang buangan lainnya dari Timur (Indonesia). Di sinilah komunitas Muslim berkumpul pertama kali di Afrika Selatan dan didirikan. Karena sebagian besar pengikut Syekh Yusuf berasal dari Makasar, maka daerah sekitar Zandvliet sekarang masih dikenal dengan nama Macassar. 

Syekh Yusuf dianggap oleh banyak orang, sebagai pendiri agama Islam di Tanjung Harapan (Cape Town, Afrika Selatan). Syekh Yusuf meninggal di Zandvliet pada tanggal 23 Mei 1699. Makamnya menjadi tempat ziarah sejak saat itu. Dilansir dari laman sahistory.org.za.

Sumber :

https://www.sahistory.org.za/dated-event/sheikh-yusuf-regarded-founder-islamic-faith-cape-dies-zandvliet-macassar

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement