Selasa 09 Jan 2024 21:42 WIB

Pengetahuan yang Paling Utama Menurut Ulama Klasik

Sifat paling utama manusia adalah pengetahuan.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sifat paling utama manusia adalah pengetahuan. Lalu, ulama klasik bergelar Sulthanil Ulama, Syekh Izzuddin bin Abdussalam (w. 660 H) mengungkapkan bahwa pengetahuan yang paling utama adalah mengenal Tuhan. 

Dalam karyanya yang berjudul "Syajaratul Ma'arif" terbitan Qaf Media, Syekh Izzuddin menjelaskan: 

Baca Juga

وافضل العرفان معرفة الديان، لأ مرها بكل إحسان، و زجرها عن كل غدران

"Dan pengetahuan yang paling utama adalah mengenal Tuhan, karena pengetahuan ini memerintahkan segala kebaikan dan mencegah dari segala penyimpangan."

 

Setelah itu, kata Syekh Izzuddin, baru mengetahui hukum-hukum Alquran, lalu mengetahui janji bagi orang taat dan beriman, serta mengetahui ancaman bagi orang kafir dan gemar bermaksiat. 

Menurut dia, buah mengenal Tuhan Yang Maha Kasih adalah ahwal (kondisi rohani) yang luhur, perkataan yang bernilai, perbuatan yang diridhai, dan derajat di akhirat. Sedangkan buah mengetahui hukum-hukum Alquran adalah menjauhi kedurhakaan dan mengikuti yang diridai Tuhan. 

Lalu, buah mengetahui janji dan ancaman adalah mengambil pelajaran dari apa yang menimpa pelaku maksiat dan tergerak untuk berbuat taat dan baik. 

Syekh Izzuddin melanjutkan, buah mengetahui rendah dan sementaranya dunia adalah menghinakan dunia dan tidak condong kepadanya. Kemudian, buah mengetahui nilai dan keabadian akhirat adalah berorientasi dan bersemangat meraih kebaikan di akhirat. 

"Buah dipenuhinya hati dengan mengenal Tuhan adalah menampik segala sesuatu selain-Nya, mengasingkan diri dari sesama, dan mengutamakan ridho Khalik dibanding ridha makhluk," jelas Syekh Izzuddin. 

Dia mengatakan, sesungguhnya Allah telah memberi watak hambanya untuk mengedepankan suatu tujuan paling utama dibanding yang utama, untuk meraih yang terpenting daripada yang penting, dan juga untuk menolak mudharat yang paling besar dan mudgarat yang lebih kecil. 

"Maka ia tidak akan mendahulukan yang biasa daripada yang utama kecuali orang gagap dan tak mengerti tingkatan keutamaan atau orang celaka dan lalai terhadap level tertinggi," kata Syekh Izzuddin.

Karena itu, lanjut dia, tidak ada yang menyibukkan diri dengan dunia ini kecuali orang yang bodoh terhadap kemuliaan akhirat, dan tidak akan menyibukkan diri dengan akhirat kecuali orang yang bodoh terhadap keagungan Tuhan Maharaja, Mahperkasa.

Jadi, tidak mengetahui yang utama dan yang hina menjadi penyebab seseorang mendahulukan dunia dan akhirat, mendahulukan yang biasa dari yang utama, mendekati hal-hal yang hina dan menjauhi hal-hal yang utama," jelas Syekh Izzuddin. 

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement