Senin 08 Jan 2024 20:01 WIB

Haram Hukumnya Menikahi Saudara Kandung, Begini Penjelasannya

Nikah merupakan sunnah Nabi Muhammad.

Calon pengantin melakukan sungkeman sebelum ijab qobul saat Nikah Massal di Panti Wredha Budi Dharma, Yogyakarta, Kamis (21/12/2023). Sebanyak empat pasangan pengantin mengikuti nikah massal dengan tema Nikah Bareng Restu Ibu dalam rangka menyambut Hari Ibu. Dengan digelarnya nikah massal di Panti Wredha untuk mengingatkan kita akan kasih sayang orang tua. Selain itu, yang unik prosesi ijab qobul dilakukan di dalam ambulan.
Foto: Republika/ Wihdan Hidayat
Calon pengantin melakukan sungkeman sebelum ijab qobul saat Nikah Massal di Panti Wredha Budi Dharma, Yogyakarta, Kamis (21/12/2023). Sebanyak empat pasangan pengantin mengikuti nikah massal dengan tema Nikah Bareng Restu Ibu dalam rangka menyambut Hari Ibu. Dengan digelarnya nikah massal di Panti Wredha untuk mengingatkan kita akan kasih sayang orang tua. Selain itu, yang unik prosesi ijab qobul dilakukan di dalam ambulan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menikah sebagaimana tertulis dalam firmannya Surat An-Nisa ayat 3

فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ

Baca Juga

fankiḥū mā ṭāba lakum minan-nisā'i

"Maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi."

 

Namun tidak sembarang lawan jenis yang dapat dinikahi. Ada batasan yang harus menjadi perhatian.

Sejumlah hukum yang diterapkan Allah SWT kepada hamba-Nya mempunyai beragam alasan sebagiannya. Rasionalisasi ibadah tersebut bisa dibaca tidak hanya dari teks, tetapi juga bukti empirik dan pembuktian ilmu pengetahuan, salah satunya. 

Di antara contohnya adalah larangan menikahi perempuan yang masih mempunyai hubungan darah (mahram). Lalu, mengapa hal itu diharamkan? 

Menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam buku Tuntas Memahami Halal dan Haram, seorang manusia yang normal tidak mungkin melepaskan hasrat seksualnya kepada darah dagingnya sendiri, seperti kepada ibu, kakak, adik, atau anak perempuan. Bahkan, binatang pun tidak ada yang seperti itu.  

Adapun perasannya kepada bibi atau tantenya, baik bibi dari pihak ayah ataupun ibu, seharusnya tidak juga dilakukan karena bibi memiliki kedudukan yang sama seperti ibunya sendiri. Sebab, kedudukan paman pun sama dengan ayahnya sendiri. 

Seandainya syariat tidak datang untuk memutuskan keingin orang-orang tersebut, tentu bahaya akan lebih besar menimpa mereka. Karena terlalu dekatnya hubungan seorang laki-laki dengan mereka, di samping seringnya berduaan dan bergaul dengan mereka.  

 

Lihat halaman berikutnya >>>

 

sumber : Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement