Rabu 27 Dec 2023 09:51 WIB

Kesalahan Baca Surat At-Taubah dan Lahirnya Ilmu Nahwu

Ilmu nahwu menjadi acuan tata bahasa Arab.

Rep: Muhyiddin/ Red: Erdy Nasrul
Kiai Said Aqil Siradj mendorong pemerintah Indonesia dan Tiongkok untuk segera mewujudkan pengembangan peradaban ekologis.
Foto: Republika
Kiai Said Aqil Siradj mendorong pemerintah Indonesia dan Tiongkok untuk segera mewujudkan pengembangan peradaban ekologis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nadhaltul Ulama (PBNU), Prof KH Said Aqil Siroj menjelaskan peran besar para ulama dalam melahirkan ilmu-ilmu keislaman, termasuk dalam ilmu tata Bahasa Arab atau Ilmu Nahwu.

Kiai Said menceritakan, saat itu ada orang Islam yang salah membaca Alquran, yang mana saat itu masih tanpa harakat. Ketika membaca Surat At-Taubah ayat tiga, dia membaca dengan redaksi sebagai berikut:  

Baca Juga

أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهِ

“Sesungguhnya Allah tidak melindungi orang musyrik dan tidak melindungi rasul-Nya.

Menurut Kiai Said, redaksi di atas tersebut tidak tepat. Redaksi bacaan yang benar dan sesuai dengan surat At-Taubah ayat 3 dalam Alquran adalah sebagai berikut:

اَنَّ اللّٰهَ بَرِيْۤءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ ەۙ وَرَسُوْلُهٗۗ

“Sesungguhnya Allah tidak melindungi orang musyrik dan Rasululah pun tidak melindungi orang Musyrik.”

Dengan adanya kesalahan membaca Alquran tersebut, menurut Kiai Said, maka lahirlah ilmu Nahwu. Ilmu ini kemudian juga dikembangkan oleh Abu Bisyr Amr bin Utsman bin Qanbar Al-Bishri, yang lebih dikenal dengan nama Sibawaih.  

“Coba kalau tak ada Imam Sibawaih, gak ada grammer, gak ada Nahwu, baca Arab salah kabeh,” kata Kiai Said saat tausiyah dalam dalam Majelis Haul ke-85 Al Maghfurlah KH Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, Sabtu (23/12/2023).

Cerita lengkapnya juga disampaikan melalui situs resmi Pondok Pesantren Wisata An-Nur II. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah (Tabiin), bahwa terdapat seorang badui (Arab pedalaman) di zaman Khalifah Umar RA, ia berkata:

“Siapakah yang bisa membacakan kepadaku apa yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.”

Lalu ada seseorang yang membacakan Surat At-Taubah hingga ayat ketiga tersebut dan salah dalam membacanya. Sontak bacaan yang salah tersebut membuat orang badui itu kaget.

Kesalahan membaca surat At-Taubah ayat 3 itu pun sampai ke telinga sang Khalifah Umar bin Khattab. Dengan kejadian ini, maka Khalifah  Umar melarang membacakan Alquran melainkan “Alimun Bil lughah” (orang yang mengetahui ilmu bahasa Arab) dan beliau memerintahkan Abul Aswad Ad-Du’aly agar menyusun ilmu Nahwu.

Maka dari kejadian ini Sayidina Umar memotivasi agar kaum muslimin belajar ilmu bahasa Arab, ia berkata:

تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ

“Pelajarilah bahasa Arab karena sesungguhnya ia adalah bagian dari agama kalian.” (Iqtidlaus Shirath Al-Mustaqim)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement