Sabtu 09 Dec 2023 10:33 WIB

Sering Ghibah Lalu Taubat, Apakah Perlu Mengakuinya di Depan Korban?

Ghibah adalah salah satu dosa besar menurut pendapat yang paling rojih.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
Ilustrasi Bergunjing Ibarat Memakan Daging Saudara Sendiri.
Foto: pxhere
Ilustrasi Bergunjing Ibarat Memakan Daging Saudara Sendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mubaligh Mesir Muhammad Ali menyampaikan soal tebusan yang diperlukan atas dosa ghibah. Dia mengatakan ghibah adalah salah satu dosa besar menurut pendapat yang paling rojih.

"Hendaknya seorang Muslim mengetahui bahwa setiap perkataan yang diucapkannya itu dicatat untuknya dalam sebuah catatan. Dan tidak ada satu hal sekecil pun yang luput dari pencatatannya," tuturnya, seperti dilansir Masrawy, Jumat (8/12/2023).

Baca Juga

Allah SWT berfirman:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

 

"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf ayat 18)

Ali juga memaparkan, ghibah adalah salah satu keburukan lisan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Dalam Alquran pun telah disebutkan tentang peringatan terkait perbuatan ghibah ini.

Ali kemudian mengutip firman Allah SWT, sebagai berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al Hujurat ayat 11)

Ali melanjutkan, bagi pelaku ghibah, jika orang yang dighibahi itu telah meninggal dunia atau tidak tahu keberadaannya di mana, maka pelaku ghibah tersebut harus segera memohon ampun kepada Allah SWT, dan mendoakan kesejahteraan untuk orang yang dighibahi itu.

"Juga berusaha memperbanyak amal shaleh yang terhapus dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika pengakuan kepada orang yang dighibahi itu membawa bahaya yang besar, maka cukuplah ia memohon ampun, memujinya, dan menyebut dia dengan hal-hal baik," tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement