Jumat 08 Dec 2023 06:43 WIB

Wasiat Nabi Muhammad di Waktu Dhuha

Nabi Muhammad anjurkan umatnya sholat dhuha.

Rep: Rossi Handayani/ Red: Muhammad Hafil
 Nabi Muhammad anjurkan umatnya sholat dhuha. Foto:  Sholat Dhuha di kantor (ilustrasi)
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Nabi Muhammad anjurkan umatnya sholat dhuha. Foto: Sholat Dhuha di kantor (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Disunnahkan bagi setiap hamba agar melaksanakan shalat dhuha ketika sudah tiba waktu dhuha.

Seperti dikutip dari buku Sunnah dan Dzikir Harian Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Dalilnya adalah, Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Kekasihku (yakni Nabi) Shallallahu alaihi wa Sallam pernah memberiku tiga wasiat (pesan/nasehat), yaitu agar berpuasa selama tiga hari di setiap bulan (yakni setiap tanggal 13,14,15 di bulan bulan hijriah), agar melaksanakan shalat sunnah dhuha dua rakaat, dan agar aku melaksanakan shalat witir sebelum aku beranjak ke pembaringan.” 

Baca Juga

Wasiat ini juga disampaikan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam kepada Abu Darda Radhiyallahu Anhu yang disebutkan pada riwayat Imam Muslim (no.722), serta kepada Abu Dzar Radhiyallahu Anhu yang disebutkan pada riwayat An Nasa'i dalam kitab As Sunan Al Kubra (no.2712).

Hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau pernah bersabda, 

 

“Ketika memasuki pagi, setiap persendian kalian berhak atas sedekah, namun ketahuilah bahwa setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, mengajak pada kebaikan adalah sedekah, mencegah suatu kemungkaran adalah sedekah, dan jumlah tersebut sudah bisa terpenuhi cukup dengan melakukan shalat sunnah dhuha dua rakaat” (HR. Muslim no.720) 

Persendian adalah penghubung antar tulang satu dengan yang lainnya hingga tubuh dapat digerakkan. 

Dalam kitab Shahih Muslim juga disebutkan sebuah riwayat dari bunda Aisyah Radhiyallahu Anha yang menjelaskan bahwa setiap manusia itu diciptakan memiliki tiga ratus enam puluh persendian. Apabila semua hak sedekahnya terpenuhi, maka pada hari itu ia sedang berjalan untuk menjauhkan dirinya dari api neraka Jahannam. 

Untuk waktunya dimulai sejak diperbolehkannya melaksanakan shalat dhuha (yakni setelah lewat waktu pengharaman untuk mendirikan shalat), tepatnya saat matahari naik dan bayangan tombak setara dengan ukuran tingginya. 

Waktu ini berakhir sebelum matahari berpindah arah (dari timur ke barat), tepatnya kira-kira sepuluh menit sebelum masuk waktu zhuhur. 

Dalilnya adalah: Hadits yang diriwayatkan dari Amru bin Abasah Radhiyallahu Anhu, “Kerjakan shalat shubuh, lalu jangan melakukan shalat (apapun) hingga matahari mulai meninggi (setelah meninggi barulah) kerjakan shalat (dhuha) karena sesungguhnya shalat itu disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat), (waktunya) sampai bayang-bayang tombak menjadi sangat sedikit, lalu jangan melakukan shalat (apapun), karena ketika itu api neraka Jahannam sedang dinyalakan..” (HR. Muslim no.832). 

Sementara waktu shalat dhuha yang paling utama yakni di akhir waktu yang diperbolehkan, yaitu ketika panas matahari menyengat tapak kaki anak-anak unta. 

Dalilnya adalah: hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam pernah bersabda, “(Waktu) shalat awwabin (dhuha) itu adalah ketika anak unta merasakan kepanasan.” (HR. Muslim no.748).

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement