Kamis 07 Dec 2023 16:00 WIB

Agar Ngaji Alquran Semakin Bermakna, ini 11 Adab yang Harus Dikerjakan

Ngaji Alquran akan lebih baik bila dibarengi dengan tadabur.

Rep: Rossi Handayani/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi ngaji Alquran.
Foto: Dok Republika
Ilustrasi ngaji Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muslim hendaknya memperhatikan adab-adab ketika bertilawah Alquran. Salah satu adab saat membaca kitabullah, qari hendaknya meniatkan bacaannya semata karena Allah Ta'ala.

Dikutip dari buku Tajwid Lengkap Asy-Syafi'i karya Abu Ya'la Kurnaedi, di antara adab seorang muslim terhadap Alquran yaitu: 

Baca Juga

1. Hendaknya qari meniatkan dalam membaca dan mentadaburi Alquran secara murni karena wajah Allah, bukan karena riya atau ingin dipuji dan sumah (ingin didengar), serta tidak minta upah apa pun, karena ibadahnya merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada-Nya. 

2. Menghormati adab-adab tilawah atau membaca Alquran, seperti beristiadzah (meminta perlindungan) kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk ketika memulai qiraah, juga membaca basmalah apabila memulai qiraahnya dari awal surah selain surah At-Taubah. 

3. Hukumnya mustahab (disukai) bagi qari Alquran untuk berwudhu sebelum memulai qiraah dengan mushaf (bukan dengan hafalan). Bahkan, ada yang berpendapat wudhu wajib atasnya.

4. Sebaiknya duduk ketika membaca Alquran, begitu juga berpakaian yang baik, menghadap kiblat, dan berada di tempat terhormat yang layak dengan keagungan Kitab-Nya. 

5. Sebaiknya membaca Alquran dengan tunduk, khusyu, perlahan, diiringi tadabur dan tafakur pada ayat-ayatnya, sedangkan hati dan inderanya tertuju pada apa yang dibaca, dan tidak memotongnya dengan perkataan manusia. 

6. Dianjurkan mentartilkan Alquran dengan suara yang bagus, dengan memperjelas setiap huruf dan harakatnya, juga memperhatikan hukum-hukum tajwid sesuai kemampuan. 

7. Apabila dimungkinkan ada seseorang mendengar bacaan Alquran kita, sementara dia pun sedang membaca Alquran atau mengerjakan shalat, maka hendaklah tidak mengganggu mereka yang sedang beramal itu dengan mengeraskan suara. 

8. Qari hendaknya tidak membaca Alquran dengan cepat sehingga tidak dapat memahami apa yang diucapkannya, dan tidak memanjangkannya lebih dari batasan yang merusak lafazh-lafazhnya sehingga keluar dari maksud tilawah. Namun, bacalah dengan sikap pertengahan. 

9. Tidak membaca Alquran dengan nada-nada nyanyian seperti irama-irama orang fasik, atau senandungnya kaum Nashrani, juga ratapannya para rahib Yahudi, semua cara itu tidak diperbolehkan. 

10. Menahan diri dari qiraah apabila menguap, yakni berhenti dahulu sampai selesai menguap, demi mengagungkan Allah. Karena pada saat itu seorang hamba sedang menyeru dan bermunajat kepada Rabbnya, sedangkan menguap berasal dari syaitan. 

11. Berhenti pada ayat rahmat kemudian meminta karunia dari Allah, serta berhenti pada ayat azab dan ancaman kemudian meminta perlindungan kepada Allah darinya, sebagaimana pada ayat tasbih hendaknya bertasbih, dan yang demikian dilakukan di luar shalat fardhu (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement