Selasa 05 Dec 2023 10:26 WIB

Nenek Moyang Yahudi Punya Keahlian Intelijen, Tapi Bermental Pengecut dan Membangkang 

Israel sekarang memiliki badan intelijen sendiri.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil
 Nenek Moyang Yahudi Punya Keahlian Intelijen, Tapi Bermental Pengecut dan Membangkang. Foto:  Ilustrasi agen Mossad.
Foto: Anadolu Agency
Nenek Moyang Yahudi Punya Keahlian Intelijen, Tapi Bermental Pengecut dan Membangkang. Foto: Ilustrasi agen Mossad.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Israel memang memiliki kekuatan intelijen bernama Mossad sebagai institut Intelijen Operasi Khusus Israel bersama Aman (intelijen militer Israel) dan Shin Bet (keamanan internal Israel adalah entitas utama dan komunitas Intelijen Israel. 

Meski begitu, intelijen Israel tak berbanding lurus dengan kemampuan dan mental bertempur para militernya. Faktanya, militer Israel mengalami kekalahan besar ketika harus berhadapan langsung bertempur dengan Hamas di Palestina. Alhasil, dengan pengecutnya, Israel terus-menerus melancarkan serangan jarak jauh lewat udara. 

Baca Juga

Sebenarnya, sejak dulu nenek moyang kaum Yahudi telah memiliki keahlian intelijen yang mumpuni. Tapi sekali lagi, keahlian intelijen mereka tak berbanding lurus dengan mental berjuangnya di medan tempur. Mereka ciut bahkan melarikan diri. 

Ini terjadi ketika zaman nabi Musa alaihissalam. Setelah lepas dari kekejaman Fir'aun, Bani Israil eksodus besar-besaran menuju Palestina dengan dipimpin nabi Musa alaihissalam. Saat itu, Palestina diduduki kaum bertubuh raksasa dengan kekuatan di atas rata-rata manusia. Nabi Musa pun mengutus beberapa orang untuk melakukan kegiatan intelijen, yakni memata-matai keadaan di Palestina. 

 

“Nabi Musa mengirim dua belas orang mata-mata (meraglim) dari Bani Israil untuk misi pengintaian terhadap para raksasa yang menempati Al Quds itu. Kedua belas orang itu bertemu raksasa bernama Og, atau Auj dalam literatur Arab. Bangsa raksasa bernama Og ini konon adalah bangsa Amaliqah atau Amalek (Amalekite). Bangsa inilah pemilik berhala bernama Hubal yang kemudian dibawa oleh Amr bin Luhay dari Bani Khuza’ah ke Makkah di masa jahiliyah belasan abad setelah peristiwa Gurun Tih,” (Lihat buku: Yahudi Madinah Dari Era Nebuchadnezzar Hingga Khaibar karya Wisnu Tanggap Prabowo, penerbit Pustaka Al Kautsar 2 tahun 2021 halaman 41).

Disebutkan bahwa kedua belas intelijen itu adalah perwakilan dari 12 suku-suku Bani Israil. Setelah mendapat banyak informasi tentang kaum Amalek yang memiliki fisik raksasa yang menduduki Palestina kala itu, kedua belas intelijen utusan Yahudi itu sepakat memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang mereka lihat kepada Bani Israil karena adanya kekhawatiran bila disampaikan secara langsung berpotensi membuat gentar Bani Israil dan menentang Nabi Musa untuk memasuki Palestina. Pada akhirnya kedua belas intelijen itu hanya memberitahu nabi Musa dan nabi Harun. 

Tetapi informasi itu pada akhirnya bocor, perintah nabi Musa agar Bani Israil masuk ke Palestina tak dipatuhi. Bani Israil enggan dan takut menghadapi musuh yang memiliki fisik dan kekuatan sangat besar. Begitulah mental pengecut nenek moyang kaum Yahudi. Pada akhirnya hanya dua orang saja dari pengikut setia nabi Musa yang menyatakan mengikuti perintah nabi Musa.

Ialah Yusa bin Nun dan Kaalib bin Yufana. Sementara Bani Israil malah mundur, bahkan mereka mengungkapkan lebih memilih mati di padang pasir dari pada harus berperang. Mereka menyeru bahwa lebih memilih balik lagi ke Mesir tempat Fir'aun berkuasa daripada harus mentaati seruan nabi Musa untuk berperang dengan bangsa raksasa Amalek. 

Karena ketakutan hebat...

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement