Sabtu 02 Dec 2023 17:22 WIB

Nasihat untuk Orang Tua dan Guru Agar Anak Tidak Minder

Nabi Muhammad SAW pun telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan malu.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad
Foto: Dok Republika
Ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Di masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik pada era Dinasti Umayyah, pernah terjadi musim kemarau di dusun-dusun. Kemudian datang orang-orang Arab menghadap Hisyam, namun mereka takut berbicara.

Di antara mereka ada seorang anak kecil bernama Wirdas bin Habib. Mata Hisyam melihat anak kecil itu lalu berkata kepada orang yang menghalanginya, "Siapa saja yang ingin menghadapku, kupersilahkan untuk masuk, termasuk anak-anak kecil."

Baca Juga

Anak kecil itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, kami telah tertimpa musibah selama tiga tahun: tahun pertama, lemak-lemak mencair; tahun kedua, daging-daging habis dimakan; dan tahun berikutnya, tulang-tulang dibersihkan dari sumsumnya. Sedangkan engkau mempunyai kelebihan harta. Jika harta-harta itu milik Allah, maka bagikanlah kepada hamba-hamba-Nya. Jika harta itu milik mereka maka atas dasar apa engkau menahannya dari mereka? Dan jika harta itu milikmu, maka sedekahkanlah kepada mereka, karena sesungguhnya Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersedekah, dan tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan."

Kemudian Hisyam berkata, "Tidak ada udzur yang ditinggalkan anak ini bagi kita di dalam setiap tahun itu." Kemudian Hisyam memerintahkan untuk memberi orang-orang desa sebanyak seratus dinar dan Wirdas sendiri sebanyak seratus ribu dirham.

 

Anak kecil itu menjawab, "Kembalikanlah ia (bagianku) kepada orang-orang Arab wahai Amirul Mukminin. Karena aku khawatir bagian itu tidak mencukupi kebutuhan mereka."

Hisyam bertanya, "Apakah engkau tidak membutuhkan?" Anak kecil itu menjawab, "Aku tidak mempunyai kebutuhan khusus untuk pribadiku selain kebutuhan untuk seluruh kaum Muslimin". Kemudian anak kecil itu keluar, dan ia termasuk orang yang paling terhormat di antara kaum itu.

Kisah tersebut tercantum dalam buku 'Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam' (terjemahan dari Tarbiyatul Aulad fil Islam) karya Dr Abdullah Nashih Ulwan. Kisah itu menunjukkan bahwa anak-anak Salaf telah terdidik untuk membebaskan diri mereka dari sifat minder, pengecut dan bergantung kepada orang lain.

Mereka sudah dibiasakan untuk bersikap berani, menemani orang tua mereka menghadiri majelis-majelis umum, berkunjung ke rumah-rumah teman dan terdorong untuk berbicara di depan orang-orang besar, orang-orang yang cerdas dan fashih. Mereka juga didorong untuk berbicara dengan para khalifah dan amir. Mereka juga diajak bermusyawarah untuk memecahkan masalah umum dan masalah-masalah ilmiah.

"Seluruh keberanian yang sopan santun ini termasuk hal-hal yang menanamkan dan menumbuhkan makna-makna pemahaman dan kesadaran yang sangat terpuji di dalam jiwa anak-anak, serta mendorong mereka untuk menaiki tangga kesempurnaan dan membentuk kepribadian, kematangan berpikir dan sosial," jelas Dr Ulwan.

Karena itu, Dr Ulwan menyampaikan, para pendidik seperti kalangan guru dan terutama para orang tua, perlu menerapkan dasar-dasar pendidikan yang utama ini agar anak-anak tumbuh dan terdidik di atas keterusterangan yang sempurna dan keberanian.

"Tentu dengan batas-batas kesopanan, kehormatan, menjaga perasaan orang lain dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kalau tidak, maka keberanian itu akan berbalik menjadi rasa tidak tahu malu dan keterusterangan menjadi kurang sopan terhadap orang lain," paparnya.

Dr Ulwan juga menjelaskan perbedaan yang jelas antara malu dan minder. Minder adalah perasaan kecut, mundur dan menjauhnya anak dari pertemuan dengan orang lain sehingga enggan berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan malu adalah sifat anak yang selalu mengikuti jalan keutamaan dan adab Islam.

"Tidak dikatakan minder jika membiasakan anak sejak masa pertumbuhannya untuk bersikap malu dalam berbuat kemungkaran dan kemaksiatan. Juga tidak dikatakan minder, jika membiasakan anak untuk selalu berkata bersih, menjauhi makanan haram dan memanfaatkan waktu untuk taat kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya," terangnya.

Nabi Muhammad SAW pun telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan malu. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud RA, Nabi SAW bersabda:

استَحيوا منَ اللَّهِ حقَّ الحياءِ ، قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ إنَّا لنَستحيي والحمد لله ، قالَ : ليسَ ذاكَ ، ولَكِنَّ الاستحياءَ منَ اللَّهِ حقَّ الحياءِ أن تحفَظ الرَّأسَ ، وما وَعى ، وتحفَظَ البَطنَ ، وما حوَى ، ولتَذكرِ الموتَ والبِلى ، ومَن أرادَ الآخرةَ ترَكَ زينةَ الدُّنيا ، فمَن فَعلَ ذلِكَ فقدَ استحيا يعني : منَ اللَّهِ حقَّ الحياءِ

"Hendaklah kalian malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Lalu kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu kepada Allah, segala puji bagi Allah."

Kemudian beliau SAW bersabda, "Bukan begitu. Malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu adalah hendaknya engkau menjaga kepala dan apa yang didengarnya, menjaga perut dan apa yang masuk ke dalamnya, serta mengingat kematian dan cobaan. Siapa yang menginginkan kehidupan akhirat, maka ia harus meninggalkan perhiasan dunia dan mengutamakan akhirat daripada dunia. Siapa melakukan semua itu, maka ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." (HR. At Tirmidzi)

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement