Rabu 29 Nov 2023 09:26 WIB

Ketika Nafsu Justru Urungkan Niat Sayyidina Ali Membunuh Orang Musyrik

Sayyidina Ali bin Ali Thalib terlibat perang tanding dengan jawara kaum musyrik.

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Ilustrasi Sahabat Nabi
Foto: Mgrol120
Ilustrasi Sahabat Nabi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sayyidina Ali bin Ali Thalib adalah tokoh penting dalam sejarah Islam. Ia dikenal sebagai khalifah keempat setelah Nabi Muhammad SAW. Sayyidina Ali juga merupakan sepupu dan menantu Rasulullah serta suami dari Fatimah, putri Nabi.

Dalam karyanya yang berjudul Al-Maktubat, ulama asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi, menceritakan peristiwa yang penuh ibrah (pelajaran) yang dialami Sayyidina Ali. Dalam suatu peperangan, Sayyidina Ali radhiyallahu anhu terlibat perang tanding dengan salah seorang jawara kaum musyrik. Ia berhasil mengungguli dan menjatuhkan lawannya.

Baca Juga

Ketika Sayyidina Ali hendak membunuhnya, ia meludahi wajah beliau. Akhirnya, Sayyidina Ali membebaskan dan meninggalkannya. Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Sayyidina Ali dan bertanya, “Mengapa engkau tidak membunuhku?”

Sayyidina Ali menjawab, “Awalnya, aku ingin membunuhmu karena Allah. Namun, ketika engkau meludahiku, aku pun marah. Karena pengaruh nafsu telah menodai keikhlasanku, aku pun tidak jadi membunuhmu.”  

 

“Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu sehingga engkau segera membunuhku. Jika agamamu begitu suci dan tulus, sudah pasti ia adalah agama yang benar,” ujar orang musyrik itu.

Dalam peristiwa yang lain, Said Nursi juga menceritakan seorang penguasa yang adil memecat seorang hakim ketika melihatnya marah saat melakukan eksekusi potong tangan terhadap pencuri.

Jika hakim itu memotong tangan pencuri demi tegaknya syariat dan hukum Ilahi, ia seharusnya menunjukkan rasa kasihan terhadapnya dan memotong tangannya tanpa menunjukkan kemarahan dan kasih sayang.

"Karena nafsu mempunyai andil dalam keputusan tersebut, sementara nafsu menafikan kemurnian keadilan, sang hakim pun dicopot dari jabatannya," kata Nursi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement